Genesis 6 – Dosa Seksual dan Penghancuran

Bagian cerita Nuh harus dibaca secara utuh sejak bagian awal pasal 6. Jika tidak, maka kita kehilangan satu konteks penting tentang alasan Tuhan mengirimkan air bah menghancurkan apa yang Ia sudah cipta.

Apa itu? Jika kita melihat film Noah, konteksnya seakan digambarkan sangat brutal, ada perang suku, ada kekejaman fisik, dan lain-lain. Saya tidak menyangkal semua itu mungkin terjadi (walau film Noah sendiri terlalu banyak interpretasi dari sutradaranya dan juga bahan-bahan di luar Alkitab). Namun, konteks kejahatan seksual yang digambarkan di bagian awal pasal tidak boleh kita lepas begitu saja sebagai latar belakang dari cerita Nuh.

Saya tidak sedang membahas siapakah nefilim atau raksasa yang disebutkan disini, tetapi saya ingin fokuskan pada kalimat “siapa saja yang disukai mereka” di ayat ke-3. Saya membacanya disini bahwa sudah terjadi penyimpangan berat dalam hal seksual pada jaman itu. Manusia tidak lagi menghargai bahwa relasi seksual adalah relasi yang sakral di hadapan Allah sebagai jalan reproduksi manusia. Namun, yang mereka lakukan disini adalah menjadikan seks sebagai sarana melampiaskan nafsu dengan siapa saja yang mereka kehendaki. Tentu ikut di belakangnya adalah dosa-dosa kekerasan fisik dan lain-lain.

Apa respons Tuhan? Lenyapkan semua manusia! Saya berpikir, mungkin malah hanya Nuh lah yang sebenarnya dengan setia menjalankan kehidupannya dengan satu istrinya. Ia pun bisa memberikan contoh kepada tiga anaknya untuk bertindak demikian. Maka dari itu kita baca bahwa hanya 8 orang lah yang diselamatkan lewat air bah tersebut.

Dari sini saya berpikir bahwa dosa seksual sangatlah serius di hadapan Tuhan. Jika satu masyarakat sudah berdosa berat secara seksual, maka Tuhan tidak segan-segan menghukum seluruh masyarakat tersebut. Ingat sodom dan gomora? Dua kota ini akhirnya dihukum Tuhan dengan hujan api dan belerang karena ternyata tidak terdapat 10 orang benar di dalamnya; bahkan sebenarnya hanya 1 yang benar yaitu Lot. Kalau mau dihitung matematis, artinya di jaman Nuh juga tidak terdapat 10 orang di dalamnya (hanya 8 orang), maka Tuhan hukum dengan air bah. Demikian juga kita bisa mengerti mengapa Abraham stop tanya Tuhan di angka 10 (Karena dia tahu kisah Nuh yang 8 orang itu)

Untuk kita saat ini, sangat-sangatlah gentar jika dosa seksual itu sudah lumrah dalam masyarakat. Jangan-jangan Tuhan juga akan hukum seperti yang sudah-sudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s