Hoax, palsu, dan pelintiran yang lebih memukau

Seakan seluruh dunia bangkit dan sadar “wow mengapa sekarang (2016) banyak sekali ya berita palsu? dan anehnya orang percaya pula!”

Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa “Hallo! Indonesia sudah mengalami itu sejak 2014.Dunia jangan terlalu Amerika-sentris donk!”

Ya, demikianlah tahun 2016 berlalu. Bahkan Youtuber seperti Veritaserum mengabadikan pemikirannya tentang “mengapa fakta tidak penting lagi?” Ia memaparkan masalah yang ada sebagai berikut: bahwa orang lebih suka untuk mengetahui apa yang ia suka ketahui, dan gawatnya, algoritma internet saat ini mendukung akan hal itu, yakni “memberikan yang kita suka”

Jadi secara singkatnya:

  1. Kita suka A
  2. Internet tahu kita suka A, maka hanya A-lah yang disajikan kepada kita
  3. Kita makin lama makin suka A

Jika A adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat, maka baiklah hidup orang itu. Namun jika A adalah suatu berita kebohongan, maka tertutuplah wawasan orang tersebut. Jadi apa solusinya? Jika saya tidak salah tangkap, Veritaserum mengusulkan kita untuk selalu lebih terbuka pada setiap berita yang ada. Secara singkatnya, ini mirip dengan gerakan-gerakan yang hadir di Indonesia seperti “turnbackhoax” atau sejenisnya. Intinya, fakta salah dihadirkan dengan fakta benar, dengan anggapan orang akan berubah pikiran karena tahu yang dia percaya itu salah.

Kok saya jadi ragu ya? Saat mendengar cara itu, sejujurnya saya merasa skeptis dan kurang percaya. Apakah memang dunia atau manusia sebaik itu? Bahkan Veritaserum pun mengakui bahwa dulu dia sangat naif berharap orang akan semakin terbuka wawasannya saat diberikan internet. Tapi nyatanya internet itulah yang menyebabkan negaraku terbagi jadi dua kubu yang sampai sekarang kadang masih bertengkar (maaf, saya tidak menyalahkan internet per se)

Sebagai orang Kristen, saya teringat perkataan Yesus Kristus yang mengatakan “Akulah jalandan kebenarandan hidup” Yoh 14:6. Saya rasa kalimat ini jadi sungguh relevan menghadapi fenomena ini. Mengapa? Mari kita telaah maksud perkataan Yesus Kristus tersebut menurut ulasan Pdt. Stephen Tong.

Kalimat tersebut berisikan tiga komponen, yakni jalan, kebenaran, dan hidup. Dalam ulasannya, Pak Tong mengatakan bahwa dua komponen pertama mewakili kebudayaan di dunia ini, yakni kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur. Jika orang Timur sejak dahulu mencari “jalan” atau “the way” lewat jalan agama, maka orang Barat itu mencari “kebenaran” atau “the truth” lewat jalan ilmu pengetahuan.

Harus kita akui bahwa seluruh agama-agama yang hadir saat ini (dan juga yang besar-besar itu) asalnya dari kebudayaan Timur. Baik Islam, Kristen, Yahudi, Buddhisme, Shintoisme, Zoroaster, Hinduisme, dll itu semua hadir dari kebudayaan Timur (Timur Tengah yang menghasilkan agama samawi). Saat ini pun, orang-orang Barat yang mengikuti ajaran new-age pasti menganggap segala sesuatu yang mistik, spiritual itu ya di Timur. Jadi, saat Yesus Kristus hadir dan berkata demikian, sebenarnya Ia sedang mengatakan pada seluruh pencari agama bahwa Dia-lah The Way atau Sang Jalan kepada Bapa yang sedang kalian cari-cari itu.

Lalu beranjak ke Barat, kita mengatahui bahwa ilmu pengetahuan, filsafat, dll itu berakar di budaya Barat. Bahkan sampai saat ini pun, kita mengasosiasikan ilmu dengan budaya Barat. Kita mengasosiasikan argumentasi, kelugasan berpikir, individualisme pemikiran, pada Barat. Jadi saat Yesus berkata Dia-lah Kebenaran atau The Truth itu, ya artinya Dia sedang berkata bahwa Kebenaran itu ya Dia/bersumber dari Dia.

Saya sedang tidak bahas tiga kata ini secara tuntas, jadi saya tinggalkan kata terakhir untuk tulisan lain. Tapi yang saya ingin tekankan disini adalah adanya tensi atau tegangan budaya Barat dan Timur yang perlu dimengerti. Kedua budaya ini tentu sudah melebur walau masih terlihat dalam era globalisasi saat ini. Tapi saya kurang setuju jika kita memBaratkan Timur atau menTimurkan Barat, sebab bagi saya pribadi, solusi Yesus Kristus juga bukanlah demikian. Yesus menawarkan Diri-Nya sendiri sebagai Sang Hidup yang membawa baik Jalan atau Kebenaran itu kedalam suatu kesatuan yang utuh.

Apa hubungannya dengan hoax? Hubungannya ada di bagian ini. Manusia itu suka hoax karena pada dasarnya mereka mencari yang mereka bisa jadikan pegangan (the way), panutan (the way), selain apa yang benar (the truth) atau kelugasan ilmu (the truth). Jadi, saat mereka menghendaki sesuatu terjadi pada bangsanya (the way), mereka mungkin tahu apa yang terbaik dalam versi masing-masing (the truth), makanya mereka memilih calon yang mereka yakini benar (the way). Apa yang mereka tidak suka dari seorang calon (the way) lain, akan tidak mungkin begitu saja diubah dengan paparan fakta-fakta penangkis hoax (the truth), sebab mereka akan mencari artikel lain (the truth) yang menunjang pemikiran mereka (the way).

Tentu kita bisa menunjukkan (the truth) bahkan membully mereka dengan ejekan-ejekan pada mereka (the way), walau saya kurang setuju bully-membully. Tapi, kita harus ingat bahwa utamanya, kita bukan sedang berusaha memBaratkan Timur atau menTimurkan Barat. Jadi, solusi yang mengajak orang untuk membuka pikiran (the truth) supaya jangan terjebak hoax, dan berharap ia terikat dengan cara pandang kita (the way) adalah sebuah kesia-siaan. Apalagi di Indonesia masih sangat kental keTimurannya dimana sosok seorang tokoh itu sangat lebih berpengaruh daripada apa yang keluar dari mulut tokoh tersebut.

Saya sendiri setuju jika orang didorong untuk semakin objektif dan terbuka dalam wawasannya. Jangan salah! (Sebenarnya ini lebih karena saya terdidik lebih ke arah budaya Barat atau pencari truth) Saya sangat dukung gerakan penanganan hoax dan sejenisnya. Tapi saya mau mengingatkan bahwa pemaksaan Truth pada orang yang mencari Way itu tidak akan selalu berhasil. Apalagi jika dalam budayanya, orang-orang yang mungkin anda kira bodoh itu sebenarnya lebih berbudaya sebagai pencari “Jalan”.

Solusinya apa? Saya tidak tahu.

Tapi, setidaknya saya berpikir bahwa Yesus-lah panutannya. Dalam urusan agama, Ia menjadi jawaban ultimat setiap pencari hidup di dunia ini. Dan dalam aplikasinya sekarang, kita yang adalah seorang pribadi harus bisa untuk tidak sekedar menekankan “truth” nya saja dengan pemberian fakta-fakta. Kita sendiri harus memperhatikan bagaimana kita bersikap supaya pencari “way” itu bisa peka pada kita yang “katanya” membawa “truth” itu. Sebab pada akhirnya, semua dari kita adalah sedang mencari “hidup” sebagai tujuan akhirnya.

Saya suka dengan pemikiran bapak-bapak negara yang saat mendirikan negara ini tidak mau condong baik ke Barat maupun Timur, yang pada saat itu diwakilkan dengan antithesis Kapitalis vs Komunis, Sekular vs Agama, dll. Jadi, sebagai orang Indonesia, saya yakin ada ide yang baik yang bisa muncul lebih dari “pemberian fakta-fakta” atau “penangkalan hoax-hoax”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s