Cerita Natal – 2016

Di Natal tahun ini, saya akan ketik-ketik sedikit pemikiran dan perenungan saya akan Natal yang akan saya lalui ke-27 kali nya tahun ini.

1. Cerita Natal – di kandang atau di rumah?

Ntah di kandang atau di rumah, tertulis bahwa bayi itu dibaringkan di palungan, sebuah tempat makan binatang. Besar kemungkinan memang ini berada di lantai bawah sebuah rumah tinggal dimana ternak biasa dimasukkan disana. Jadi bayangkan sebuah lantai dasar yang penuh dengan peralatan ternak, dimana biasanya ada ternak namun sekarang mungkin kosong. Mungkin saja tempat itu disulap menjadi tempat istirahat sementara oleh pemiliknya karena ia tahu saat itu seluruh Yudea sedang migrasi besar-besaran untuk sensus.

Ya apapun itu, saya tidak membayangkan sebuah malam yang sunyi senyap saat bayi itu lahir. Sebuah keadaan yang ribut dan sibuk itu lebih mungkin terjadi. Lalu sang ibu (Maria) itu mungkin dibantu perempuan-perempuan lain disitu untuk bersalin. Sebab ingat, saat gembala-gembala datang, ditulis “orang-orang disitu kagum akan apa yang dikatakan gembala tentang bayi ini”. Siapa “orang-orang” itu jika bukan orang lain? Terlalu sempit jika itu hanya diartikan “Yusuf dan Maria”. Buat apa Lukas mengganti kata ganti “Yusuf dan Maria” dengan “orang-orang” jika maksudnya dia bukanlah bahwa memang sungguhan ada orang lain disitu?

Dari sini saya lebih membaca bahwa kelahiran Kristus itu tetaplah bukan sesuatu yang penting dihadiri oleh orang-orang saat itu. Hanya satu rumah itu saja yang tahu ada bayi yang lahir, namun sesungguhnya HANYA gembala-gembala itulah (selain orang tua bayi ini) yang tahu siapakah bayi ini dan apa tujuannya lahir. Ya, bayi ini lahir tanpa hirauan orang banyak, tidak ada yang merayakan kecuali malaikat yang jauh-jauh datang dari sorga untuk memuliakan Tuhan didepan gembala-gembala.

2. Cerita Natal – berapa orang Majus yang hadir?

Kebanyakan kita langsung berpikir 3 orang, tapi sebenarnya itu hanya jumlah jenis hadiah yang diberikan, yakni emas, kemenyan, dan mur. Emas untuk kemuliaan raja, kemenyan untuk simbol keilahian/sebagai perantara Tuhan, dan mur sebagai simbol pahitnya penderitaan anak ini nantinya. Kita tidak tahu apakah sungguh ini yang dipikiran orang-orang majus ini, tapi ini simbol yang hendak dibicarakan Matius saat ia menuliskan.

3. Cerita Natal – apakah malaikat bernyanyi?

Aha! Nyanyian malaikat nyaring bergema, gembala mendengarnya di Efrata. “Kristus sudah lahir, hai percaya padaku, dalam kandang domba kau dapat bertemu, salam-salam!”

Satu bait lagu Natal yang menurut saya kacau luar biasa dalam hal fakta-fakta sejarahnya sesuai catatan Alkitab. Sebab, setidaknya tidak ditulis apakah malaikat itu bernyanyi atau tidak. Dikatakan malaikat memuji Allah memang, dan itu terminologi yang biasa dikaitkan dengan pujian- nyanyian. Tapi secara garis besar bisa juga dibayangkan malaikat itu ramai-ramai datang meramaikan suasana padang efrata saat itu dengan kegaduhan ucapan salam dan kesenangan surgawi. Tidak kalah indah tentunya. Sang gembala pun awalnya dari takut akhirnya mereka mendengarkan ucapan Malaikat itu.

Malaikat itu berkata tandanya adalah “engkau akan menjumpai seorang bayi yang dibungkus kain yang dibaringkan di palungan”. Itu kuncinya! Bukan disuruh ke kandang domba. Gembala-gembala itu diminta pergi ke kota Betlehem dan temuilah bayi yang ada di lantai bawah rumah sebab cukup lumrah palungan ada di lantai bawah (seperti dibahas di atas). Masuk akal kan sebagai sebuah tanda (sign)? Sebab tanda itu haruslah unik. Bayi ini sangat unik karena dibungkus kain lampin yang dibaringkan di palungan.

4. Cerita Natal – umur berapa Yesus ditemui orang Majus?

Ya tidak dikatakan kapan orang Majus bertemu Yesus. Sangat jelas ini bukan malam natal seperti yang digambarkan biasanya. Orang sering berkata bahwa “orang-orang” yang dimaksud Lukas itu adalah orang Majus yang sudah kebetulan datang duluan ke kandang domba sebelum gembala datang. Tapi aneh sekali jika dipaksakan demikian sebab artinya malam itu terjadi kegaduhan tambahan yang tidak perlu dnegan kedatangan migrasi dan juga orang Majus. Mereka tidak mungkin datang tanpa rombongan. Jaid sangat masuk akal mereka datang saat Yesus sudah berumur 2 tahun. INi juga didukung dengan fakta bahwa mereka memberi tahu angka ini kepada Herodes saat ditanya “sejak kapan kamu melihat bintang itu?”

5. Kesimpulan

Jadi, rasanya kurang tepat gambaran kisah Natal di kandang domba, dengan 3 orang Majus dan Gembala yang sama-sama tumpah ruah. Lebih tepat dibayangkan begini: Betlehem itu sedang sibuk-sibuknya menerima ornag-orang pulang kampung. Dalam kesibukan itu, Yusuf dan Maria tidak lagi dapat tinggal dengan wajar di dalam kamar-kamar tinggal sebab sudah sangat penuh rumah-rumah disana. Lalu tempat yang tersisa buat mereka adalah lantai bawah rumah, dimana biasa mereka menempatkan ternak dan peralatannya. Saya bayangkan tempat itu sudah disulap sedemikian rupa supaya ada orang-orang yang bisa istirahat disana, dan disitulah Maria melahiarkan Yesus.

Tidak ada yang tahu bayi ini siapa, mereka hanya pikir ini bayi biasa. Mereka membantu Maria bersalin, lalu mereka membungkus dengan kain lampin dan membaringkan di palungan sebab tidak ada lagi tempat untuk mereka.

Dalam keadaan ini, gembala-gembala di padang mendapatkan penampakan malaikat-malaikat surgawi yang datang dan menceritakan damai sejahtera, bahwa telah lahir juruselamat di kota Daud. Malaikat itu bisa saja bernyanyi, bisa saja sekedar saling berbincang menceritakan semua itu. Mereka disuruh mencari bayi yang bertanda-tanda dibungkus lampin dan dibaringkan di palungan. Lalu mereka bertemu Yusuf dan Maria dan bayi itu dimana mereka menceritakan seluruh peristiwa yang mereka lihat. Seluruh orang yang hadir di rumah itu pun takjub akan cerita mereka. Bayi ini bukan bayi biasa ternyata!

Dua tahun berlalu. Yusuf mungkin masih tinggal di rumah yang sama walau sekarang mereka sudah tinggal di kamar yang layak. Lalu datanglah rombongan majus. Mereka mengikuti bintang yang mereka ikuti sejak lama dan berhenti di rumah tempat Yusuf tinggal. Setelah mereka masuk, mereka menyembah Yesus dan memberikan persembahan berupa kemenyan, emas, dan mur. Lalu mereka pulang lewat jalan berbeda sebab diperingati malaikat.

Lalu Herodes marah dan membunuh semua bayi di betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Sedangkan Yusuf dan Maria dan Yesus sudah pergi ke Mesir karena Yusuf diperingati Malaikat akan tindakan Herodes. Lalu setelah Herodes mati, Yusuf pun kembali ke Nazaret dan disana Yesus tumbuh sampai besar siap melayani Tuhan.

Kira-kira adakah drama sekolah minggu yang berani mendobrak tradisi kandang domba ini? Mungkin orang tua- orang tua disitu akan kebingungan kenapa drama Natalnya beda? Ya tapi mungkin memang mereka sendiri belum terlalu detil membaca cerita Natal itu seperti apa.

Selamat Natal 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s