Iya, dimaafkan, tapi hukuman harus tetap jalan juga

rembrandt_christ_and_the_woman_taken_in_adulteryLukisan Rembrant tentang perempuan yang kedapatan berzinah hendak dilempari batu

Dalam hal maaf-memaafkan, dunia suka ekstrim ke dua sisi. Ada yang maunya memaafkan saja namun tidak memikirkan konsekuensinya (hukumannya). Atau ada juga yang hanya memikirkan hukumannya tanpa memikirkan memaafkan (rekonsiliasi).

Agama pun demikian. Ada agama yang tuhannya mengajarkan keadilan saklek luar biasa tanpa belas kasihan e.g. persembahkan satu jantung untuk saya setiap hari atau saya marah, namun ada juga yang tuhannya terlalu berbelas kasihan sehingga kok rasanya mudah sekali memberikan maaf tanpa adanya hukuman.

Ini yang membuat saya cukup memikirkan tentang sifat-sifat Tuhan itu sendiri. Saya sangat tidak tertarik dengan konsep Tuhan yang hanya adil saja tanpa belas kasih. Mengapa? Karena jika sungguh dunia ini dicipta oleh Tuhan yang demikian, maka sungguh dunia ini tidak berpengharapan. Buat apa kita di dunia ini bicara tentang belas kasih dan pengampunan jika Tuhan sendiri tidak mengampuni?

Namun, jujur saja saya juga tidak menaruh hormat pada Tuhan yang maha pengampun namun begitu saja melepaskan orang dari hukuman. Coba saja rasakan sendiri apa yang ada dalam hati anda jika orang yang jelas-jelas bersalah dilepaskan begitu saja? Marah kan? Jika hakim melepaskan orang yang anda kira bersalah, anda pasti menuntut balik keputusan itu. Lah ini, masakan Tuhan bisa begitu saja mengampuni orang yang berdosa dengan sekedar minta ampun?

Betul, Tuhan maha mengampuni. Dia sendiri yang mengatakan demikian bahwa Dirinya mengampuni orang yang bertobat dan berbalik. Tapi jika Tuhan berhenti sampai disini saja, sungguh Tuhan seperti ini tidak layak untuk disembah. Tuhan yang seperti ini sangat gampangan dalam mengingkari sifatNya sendiri yang seharusnya tidak kompromi dengan dosa. Manusia sendiri saja bisa tahu marahnya seperti apa jika ada orang yang bersalah namun lepas. Sekalipun orang itu sudah minta maaf, masih ada perasaan mau dihukum juga kan? Rasanya ada yang tidak adil terjadi kalau permintaan maaf ini mengakibatkan orang ini lepas tanpa hukuman.

Justru kabar gembiranya adalah sejak Adam, Abraham, dan seterusnya sampai Yesus Kristus, ada seorang Pribadi Tuhan yang memperkenalkan diriNya sebagai Tuhan yang adil dan juga berbelas kasih. Dua hal yang kelihatannya berparadoks ini mempunyai solusi melalui adanya pengorbanan.

Tahukah anda mengapa Abraham diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri dan lalu ternyata disetop Tuhan dan diganti oleh binatang? Ini pelajaran kepada Abraham dan kita bahwa ada pengganti yang diberikan menggantikan hukuman yang seharusnya diberikan kepada kita.

Lihat Adam, manusia pertama ini juga diberikan pelajaran paling utama bahwa akan ada yang mati menggantikan kamu menjalani hukuman karena Tuhan adalah Sang Adil dan Sang Kasih itu sendiri. Ia sendiri melihat bagaimana Tuhan menyembelih binatang dan memberikan kulitnya sebagai baju penutup malunya Adam saat berdosa. Sejak halaman pertama Alkitab, konsep kasih dan adil itu sudah diberikan dengan jelas.

Namun, manusia yang berdosa ini tidak mau menyeimbangkan adil dan kasih tersebut. Kita lebih sukanya berat sebelah tergantung kebutuhan kita sendiri. Egois. Tapi memang begitulah manusia. Jika ada orang lain bersalah pada kita, maka kita dengan gegap gempita berteriak bunuh dia dan salibkan dia sebab dia sudah bersalah. Betul kita memperjuangkan keadilan, namun kasih kita lupakan. Selain itu, terkadang kita terlalu tidak peduli dan berkata kita memaafkan namun melupakan bahwa setiap urusan dosa haruslah ada hukumannya. Hal ini terutama kita lakukan jika kita sendirilah yang berbuat dosa tersebut.

Lihat kasus paling terkenal di Alkitab saat seorang perempuan ketangkap berzinah. Apa yang orang-orang mau lakukan? Wah, mereka dengan gegap gempita mau merajam wanita ini. Mereka pikir mereka membela Allah sebab demikianlah ketentuan Allah. Setiap yang berzinah harus dirajam batu sampai mati dan inilah saatnya kita tegakkan hukum Allah. Mungkin itu pikir mereka.

Namun Yesus Kristus yang merupakan Allah sendiri dengan bijak menyatakan bahwa diriNya adalah yang Adil dan yang Kasih itu. Dia mempersilahkan orang menjalankan hukuman, namun Dia hanya minta satu syarat, yakni yang tidak berdosa silahkan lempar duluan. Skak mat menurut saya.

Kita kadang lupa mengaca pada diri sendiri sebelum menghakimi orang lain. Orang itu menghina, namun apakah dirimu tidak menghina juga? Orang itu penzinah, apakah dirimu itu tidak penzinah? Jika orang kotor, apakah dirimu tidak juga kotor? Jika dirimu yakin tidak berdosa, silahkan lempar batu itu duluan.

Akhirnya tidak ada yang berani lempar karena tentu mereka sadar tidak ada satupun yang bebas dari dosa. Namun sekarang inti dari ceritanya baru mau dibuka. Apakah Yesus akhirnya melempar? Bukankah Dia tidak berdosa? Harusnya lempar, kan?

Tidak. Dia tidak melempar namun menyatakan pengampunan dosa kepada perempuan ini. Apakah ini artinya Dia mengaku Dia juga berdosa? Tidak. Justru dengan Dia tidak melempar, Dia menyatakan bahwa nanti akan ada yang menggantikan pelemparan itu. Akhirnya, Dia sendiri yang “dirajam” saat dirinya dianiaya menuju kematian di atas kayu salib.

Peristiwa salib itu sendiri jika sungguh dimengerti dengan benar akan menyatakan bahwa Allah adalah kasih dan adil. Tidak ada ekspresi keadilan dan kasih yang lebih terang benderang dari salib. Allah yang tidak menghukum orang yang mengaku dosa itu akhirnya menyatakan keadilannya dengan menanggung sendiri hukuman dosa itu bagi si pendosa yang mengaku salah. Ini Tuhan yang konsisten akan sifatnya sendiri dengan tidak berat sebelah.

Jadi, lain kali kita hendak memaafkan orang lain, selalu ingat bahwa sebenarnya tetap ada hukuman dari dosa tersebut. Tinggal saja, pertanyaan selanjutnya adalah “Siapakah yang hendak menanggungnya?” Si orang yang bersalah itukah? Atau justru kita yang akhirnya rela menanggung rasa sakit itu demi pengampunan terjadi? Sebab ingatlah justru penanggungan yang ultimat terjadi pada Diri Tuhan itu sendiri saat Ia bilang Ia mengampuni kita semua.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s