Apa itu toleransi?

*perhatian, jangan baca ini kalau anda belum dewasa secara emosi*

Untuk Indonesia yang damai, makmur, dan sejahtera.

Seorang gubernur menghina ayat suci hingga harus dihukum (katanya). Sebuah video iklan ajakan berdoa sangat offensive dan tidak boleh tayang (katanya). Seorang calon presiden dikatakan akan mencabut doa dari ruang kelas (katanya). Masih banyak hal-hal yang menyebabkan masyarakat gelisah. Entah gelisah karena merasa diserang, atau merasa tidak nyaman lantaran ada sekelompok lain yang merasa diserang.

Rasanya, ancaman perang, bunuh, kudeta, jangan pilih dia, dll menjadi sering dilontarkan. Tapi saya malah jadi bingung karena sepertinya pengertian toleransi yang saya tahu dan yang kelompok ini tahu kok sepertinya berbeda ya?

Memang apa sih itu toleransi? Saya tidak mau melakukan kesalahan “straw man fallacy” yakni membuat karikatur sendiri akan hal apa yang ingin dikomentari padahal sebenarnya hal tersebut tidaklah demikian. Sama seperti beberapa pemimpin agama yang salah mengartikan bahwa “pluralisme” adalah paham menyama-ratakan setiap keyakinan dan menganggapnya sama, maka saya juga tidak ingin salah mengartikan kata toleransi disini.

Pluralisme, setara dengan toleransi (dalam konteks agama), disini sama sekali bukanlah mengartikan setiap agama yang  dianut setiap orang itu sama saja. Saya rasa ini salah kaprah sebab jika kita belajar agama dengan baik-baik akan kelihatan bahwa agama-agama itu tidak serupa sama sekali. Memang betul ada beberapa poin yang beririsan namun pada intinya tidaklah sama.

Mengatakan agama itu semua sama saja, artinya kita hendak  menghilangkan ketidak-samaan dari setiap agama dengan begitu saja. Bagaimana mungkin Tuhan Trinitas itu sama dengan Tuhan Tauhid? Bagaimana mungkin Kristus bangkit itu sama dengan Kristus tidak disalib melainkan diganti oleh orang lain? Klaim-klaim berkontradiksi ini sama sekali tidak bisa direkonsiliasi dengan mengatakan “semua agama sama saja maka bertoleransilah.”

Maka, kata toleransi yang tepat disini haruslah diberikan konteks yang benar, yakni setiap individu akan menganggap yang dia yakini adalah kebenaran. Itu fakta dan itulah hak asasi yang hendak diperjuangkan bersama. Ya, hak ini  yang orang mulai lupa saat mulai ada keributan masalah agama. Kalau zaman eropa dulu, memang akhirnya hak ini diperjuangkan dengan perang. Kalau anda tidak setuju maka saya perangi anda. Tapi zaman sudah berubah, orang tidak lagi berperang untuk hal ini. Orang akhirnya lebih memilih untuk “live and let live” saja semua keberagaman yang ada.

Karena kita menghargai hak untuk menganut kebenaran tersebut, maka kita bertoleransi supaya setiap orang bisa menjalankan keyakinannya. Demikianlah dalam UUD diatur dengan jelas di pasal 29.

Sekarang masalah timbul saat adanya pergesekan dalam hal keyakinan yang menurut saya menunjukkan seberapa dewasanya manusia dalam komunitas itu. Tentu kita harus mengasumsikan kebebasan agama disini tetaplah dalam ranah yang tidak mengganggu kepentingan orang lain. Tentu kalau ada agama yang mengajarkan “rampoklah tetanggamu yang tidak setuju denganmu” maka agama ini harus dipertanyakan, setidaknya dipertanyakan apakah orang ini waras atau tidak.

Pergesekan yang wajar menurut saya adalah pergesekan keyakinan yang bisa dijadikan ajang komunikasi umum. Sekali lagi, kita harus akui bahwa setiap dari kita menganggap agama kitalah yang benar dan itu sangatlah wajar. Bahkan jika ada yang menganggap semua agama sama saja pun, itu sendiri adalah keyakinan dia yang wajar dan harus dihargai. Namun, sekali lagi, karena tidak semua menganut demikian, maka bersiaplah untuk mendapat komentar akan keyakinan itu didepan umum. Wajar.

Yang tidak dewasa adalah saat kita mendapat komentar tentang keyakinan kita didepan umum, lalu kita mengadu ke polisi dengan dalih “penghinaan” atau merasa “disakiti”. Memang saya akui ada individu yang berusaha memperkeruh suasana dengan hinaan-hinaan dan bukan dengan dialog yang membangun pengetahuan. Namun, jalan licin sempit ini yang menurut saya harus dilalui bersama sebagai bangsa kalau mau sama-sama maju.

Ayo dialog, bukan berkelahi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s