Genesis 2 – Tidak Baik Manusia Itu Seorang Diri Saja

sistine-chapel-michelangelo-paintings-9

Di satu-satunya pasal kehidupan manusia sebelum kejatuhan dalam dosa, kita bisa mempelajari banyak hal yang dalam kategori ideal. Bersyukur untuk satu pasal yang singkat ini karena banyak sekali poin yang bisa dibahas, mulai dari keluarga, pekerjaan, relasi, psikologi manusia, hukum alam, dll.

Tapi menurut saya pribadi, pasal ini bertemakan utama yang cukup jelas yakni inisiasi institusi pernikahan dalam rencana Tuhan sejak mulanya. Kita melihat bagaimana kondisi yang diciptakan oleh Tuhan sendiri untuk mengerucut pada satu ide, yakni bahwa manusia itu tidak baik seorang diri saja.

Manusia ini dikatakan dicipta dengan gambar dan rupa Allah sendiri (imago dei). Konsep yang hanya sekali disebutkan di Alkitab ini menjadi poin yang mendasari cara kita mengerti manusia itu sendiri. Jika Tuhan itu berelasi dalam tiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus, maka manusia pun berelasi dengan individu-individu yang lainnya. Jika Tuhan begini, maka kita bisa tebak manusia akan ada hal yang menggambarkan realitas Tuhan yang demikian (walau tidak semua).

Dalam kategori “belum berdosa” ini, kita bisa memilah mana hal yang memang saat ini terjadi karena efek dosa atau bukan. Dikatakan Manusia ini diberikan tugas memberi nama binatang yang banyak itu namun tidak menemukan yang sepadan dengan dirinya. Dalam konteksnya, sangat menarik bahwa tugas yang diberikan Tuhan adalah A, namun manusia berkesimpulan B.

Apa maksudnya? Tuhan menciptakan segala binatang tersebut dan dibawa ke manusia guna diberikan nama. Sebenarnya saya berharap kesimpulan si manusia ini adalah “Wah, beragam sekali ciptaan Tuhan” atau “Tuhan itu kreatif dan inovatif” atau yang lainnya. Intinya segala kesimpulan yang berhubungan langsung dengan topik memberi nama binatang. Namun, yang ada disini kita menemukan manusia berkesimpulan “semua binatang ini tidak ada yang sepadan denganku.” Tidak nyambung rasanya.

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa memang demikian tujuan Tuhan memberikan tugas ini. Disamping ini adalah kelanjutan tugas-tugas manusia ini dalam menjaga dan mengerjakan taman tersebut, Tuhan juga ingin menggaris bawahi kalimatNya sendiri bahwa memang manusia itu tidak baik sendiri. Jadi, akhirnya ketidak-baikan itu Ia semakin nyatakan jelas lewat ungkapan manusia itu sendiri yang memang mencari pasangan yang sepadan.

Dengan inisiatif Tuhan sendiri, akhirnya diciptakanlah perempuan dari rusuk si laki-laki ini, dan dibawa ke depan si laki-laki yang baru bangun dari tidurnya ini. Akhirnya, ungkapan si laki-laki ini menjadi konfirmasi bahwa memang dia mencari dan menemukan yang dicarinya. Inilah daging dari dagingnya yang akhirnya ketemu.

Pasal ini akhirnya ditutup dengan kalimat yang sangat terkenal dalam konteks pernikahan yakni seorang laki-laki akan meninggalkan rumahnya dan menjadi satu daging dengan istrinya. Dari kalimat ini kita melihat bahwa pernikahan ini adalah suatu hal yang diinisiasi oleh Tuhan sendiri sebagai institusi yang indah. Bahkan, sebelum adanya suksesi generasi, sudah dituliskan dengan jelas bahwa akan ada laki-laki yang meninggalkan rumahnya, yakni keluarga awalnya, untuk membentuk keluarga baru dengan istrinya yang akan menjadi satu daging dengan dirinya.

Penulisan kalimat itu sendiri sudah jelas bahwa niat awalnya memanglah satu laki-laki dan satu perempuan menjadi satu daging. Jadi sejak pasal mula-mula ini, Alkitab tidak memberikann usulan poligami. Namun fakta poligami yang terjadi di pasal-pasal selanjutnya adalah murni akibat dari dosa yang dibuat yang menjalar ke segala bidang.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s