Genesis 50 – Kematian Yusuf dan Janji Tuhan

Di bagian inilah kita menemukan kalimat yang cukup terkenal itu

“kamu mereka-rekakan yang jahat, tapi Allah mereka-rekakan yang baik …”

Kalimat ini tidaklah diucapkan Yusuf saat ia membuka siapa dirinya pertama kali kepada saudara-saudaranya. Juga, kalimat ini tidaklah keluar dengan inisiatif dari Yusuf sendiri tanpa sebuah konteks.

Konteksnya adalah saudara-saudara Yusuf berbohong tentang kalimat terakhir Yakub sebelum meninggal. Dikatakan Yakub berpesan supaya Yusuf mengampuni mereka akan kesalahan mereka di masa lalu. Disini menarik bahwa keluarga ini tidak lepas-lepasnya dari dosa kebohongan.

Tentu Yusuf sudah tahu mereka berbohong karena Yakub tidak mengatakan demikian saat percakapannya yang terakhir di pasal sebelumnya. Jikalau Yakub mengatakan demikian sebelum peristiwa pasal sebelumnya pun, masakan Yakub tidak mengatakan hal tersebut di depan Yusuf sendiri?

Saudara Yusuf pun segera berlutut menyatakan diri mereka adalah hamba dari Yusuf dan meminta ampun. Disini kita bisa melihat bahwa Yusuf tidak menggubris permintaan mereka; bukan karena ia tidak mengampuni, justru karena ia mempunyai pengertian yang melampaui saudara-saudaranya ini.

Ia tidak melupakan bahwa memang saudara-saudaranya ini bermaksud jahat pada dirinya. Dan ia tidak menghilangkan fakta itu dengan mengatakan kalimat terkenal di atas. Tanggung jawab seseorang tidaklah hilang begitu saja. Namun ia mengerti bahwa Tuhanlah yang menjadi pengatur utama dari segala kejadian hingga Ia bisa menggunakan ini untuk hal-hal baik yang sudah terjadi pada banyak orang di sekitarnya.

Urusan dosa orang lain biarkan itu menjadi urusan dirinya dengan Tuhan. Jangan kita ikut campur dengan main hakim sendiri. Kita wajib mengampuni mereka selayaknya Tuhan juga sudah mengampuni kita. Lalu, kita lihat bagaimana Tuhan berkarya melalui peristiwa ini untuk sesuatu yang baik yang terjadi setelah itu.

DI akhir cerita, kita bisa sedikit menerka alasan bangsa Israel tidak keluar-keluar dari Mesir.

Mereka cukup lama tinggal di Mesir. Dikatakan sampai generasi ke tiga setelah Yusuf. Bayangkan kita sekarang, apakah kita mengetahui kehidupan buyut kita dahulu? Dimana mereka? Apa yang mereka perbuat? Apa rencana mereka? Jika keluarga kita cukup memelihara tradisi, tentu kita bisa mengetahui hal tersebut. Tapi saya bisa membayangkan tidak semua keluar Israel ini sebenarnya menganggap janji Tuhan itu serius.

Dari Yusuf meninggal, ia sudah berpesan bahwa Tuhan pasti akan menengok Israel supaya bisa kembali ke tanah perjanjian. Bahkan, Yusuf dengan imannya meminta Israel bersumpah akan membawa tulang-tulangnya keluar dari Mesir saat Tuhan bertindak demikian. Tapi jika mereka sudah tinggal sampai generasi ke empat, kira-kira apakah tanah awal mereka tinggal itu masi bisa ditempati? Apa orang-orang sekitar Kanaan masi ingat mereka, tetangga lamanya yang sudah tinggal di Mesir?

Saya mengira bahwa pada saat ini Israel cukup nyaman tinggal di Mesir. Mereka menunggu Tuhan melawat mereka, namun pada saat penantian ini akhirnya hati mereka sudah cukup terpaut dengan Mesir. Hal ini menjadi sangat berhubungan erat dengan gambaran “Mesir adalah gambar perbudakan dosa”. Perbudakan dosa ini bukanlah akan hal-hal yang jahat seperti perbudakan fisik sungguhan saja, namun juga perbudakan akan hal-hal baik seperti kenyamanan makanan dan lain-lain yang akan terlihat jelas dari gerutuan orang Israel di padang gurun nanti.

Jadi demikian kitab ini ditutup dengan harapan iman seorang Yusuf bahwa Israel akan keluar dari Mesir.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s