Genesis 1 – Pada Mulanya melalui sebuah cerita

raphael-creation-painting

Dari mana asalmu? Oh saya dari Tangerang. Demikian jika kita ditanya orang lain akan asal usul kita. Tergantung cakupan pertanyaannya, bisa saja jawabannya menjadi sangat berbeda sekali, contohnya: saya dari Indonesia (jika ditanya negara asal), saya ada keturunan cina dari fujian, betawi, sunda, dll (jika ditanya asal nenek moyang). Jadi demikian asal usul bisa dijawab dengan jawaban yang bermacam-macam tergantung konteksnya.

Sekarang, mari kita fokus pada satu hal saja yang menurut saya sedang dibahas oleh kitab Kejadian pasal paling awal mula ini. “Dari mana asalmu?” Jika kita mencari jawaban dari cerita rakyat budaya cina, kita dikatakan berasal dari kutu-kutu di tubuh seorang raksasa bernama Pan Gu yang dirinya sendiri lahir dari telur raksasa yang menetas. Jadi Pan Gu meninggal dan tubuhnya menjadi bumi, matanya menjadi matahari dan bulang, lalu kutu-kutunya itulah yang menjadi manusia.

Lalu jika kita mencari jawaban di budaya Babilonia kuno, kita dikatakan berasal dari  tubuh dewa-dewa yang kalah perang dimana kehadiran kita ini hanyalah sebuah kecelakaan akibat perang kosmik yang berlangsung sebelumnya.

Jika kita bertanya kepada orang Yunani kuno, dikatakan bahwa dunia ini sebenarnya berasal dari Gaia yakni ibu alam, lalu terkadang ada dewa yang kebetulan spermanya jatuh mengenai ibu alam ini sehingga lahirlah makhluk di dunia ini. Bahkan, orang-orang kenamaan masa lalu sering dikatakan sebagai anak dewa dimana asal-usul mereka adalah karena ada dewa yang sedang berjalan-jalan di bumi lalu menikah dengan wanita bumi.

Ya, di Indonesia sendiri mungkin kita pernah dengar cerita asal-usul dari tradisi masing-masing. Ada yang berasal dari sebuah gunung keramat di daerah lokal, ada yang berasal dari keturunan dewa, dan lain-lain.

Apa arti semua ini? Artinya, manusia hidup tidak pernah bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan pokok tentang kehidupan, yakni Siapa saya, apa tujuan saya disini, kemana saya pergi, apa yang harus saya lakukan, mengapa demikian. Semua pertanyaan-pertanyaan ini, suka atau tidak sebenarnya harus kita cari jawabannya. Sekalipun kita menolak untuk memikirkan tentang hal ini, akhirnya kita secara otomatis akan merancang jawaban-jawabannya di kepala kita tanpa kita sadari.

Pada kebudayaan-kebudayaan yang disebut di atas, mereka berusaha menyajikan satu paket utuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dalam sebuah cerita. Cerita ini yang didengar oleh setiap orang sehingga mereka menginternalisasi arti cerita ini dalam hidup mereka.

Dalam konteks inilah sebenarnya kitab Kejadian ini ditulis. Kitab kejadian menyajikan satu paket utuh jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan krusial dalam hidup ini. Dalam konteks dekatnya, kitab ini menjadi patokan bangsa Israel dalam mempersiapkan mereka menjadi suatu bangsa di tanah Kanaan. Hal ini bukan bearti Musa mengarang cerita-cerita yang Ia tulis tersebut, namun Musa hanyalah membukukan apa yang memang sudah menjadi tradisi mulut ke mulut orang Israel saat itu.

Dengan modal pendidikan formalnya di Mesir, Musa menjadi lebih kompeten untuk menulis suatu rekam jejak asal-usul dunia ini sejak semulanya sebagaimana tradisi yang ia punya dan juga wahyu khusus dari Tuhan sendiri. Tentang konsep wahyu khusus dan umum bisa dibahas lain kali. Intinya, kitab ini menjadi modal awal umat Israel sebagai suatu bangsa.

Ini juga akhirnya mengapa kitab Kejadian sangat mirip gaya penulisannya dengan catatan Enuma Elish yakni catatan asal usul Babilonia kuno. Banyak orang berpikir bahwa Musa mencontoh Enuma Elish dan mengarang cerita versi dia sendiri supaya orang Israel takluk pada dia. Tapi menurut saya tidak begitu, justru disinilah letak kejeniusan Musa yang menulis demikian supaya tulisan dia menjadi dokumen tandingan yang menantang pengetahuan pada jamannya dia.

Jika saya dihadapkan pada dua cerita ini yakni cerita orang Babel dan orang Israel, saya jelas akan memilih cerita orang Israel. Mengapa? Bukan karena saya orang Kristen, tapi justru karena isi dari kedua cerita ini sangatlah bertolak belakang sekali walau secara tematik seakan serupa.

Dalam cerita yang disajikan Musa, sangat jelas sekali bahwa Tuhan yang ditulis Musa adalah Tuhan yang berkuasa dan penuh dengan keteraturan. Bandingkan dengan dewanya orang Babel saat itu yang penuh dengan kebencian, perang, dan bunuh-bunuhan. Jika dewanya sendiri saling perang, apakah manusia bisa berharap akan kedamaian? Yang ada, kita hanya bisa berharap pada perang dan damai yang akan terjadi secara terus menerus. Ini sama sekali tidak memberikan kita semangat untuk berjuang akan sesuatu yang kita anggap benar. Mengapa? Karena secara ultimatnya, tetaplah para dewa itu sebenarnya bisa saja saling berperang sampai saat ini.

Lagipula, jika kita punya teman yang sedang depresi akan hidupnya, atau mungkin kita sendiri sedang depresi akan hidup ini, dan kita membaca bahwa manusia hadir bukanlah dengan suatu rencana yang indah melainkan suatu produk sampingan perang, maka rasa-rasanya lebih baik mati saja ketimbang melanjutkan hidup. Artinya, pengertian yang demikian sama sekali tidak memberikan faedah dalam hidup dan akhirnya kita bisa curiga apakah memang demikianlah fakta kebenaran itu?

Tuhan yang disajikan Musa sangatlah berbeda. Ia dengan jelas berencana menciptakan seluruh dunia ini dengan kehendakNya. Tidak ada suatupun terjadi diluar apa yang Ia ketahui. Jadi kita bisa berharap penuh pada Tuhan yang demikian bahwa walaupun hidup kita hancur, namun ada harapan untuk bangkit sebab secara ultimat realita ini disokong oleh Tuhan yang tidak acak.

Manusia dalam ceritanya Musa juga bukanlah produk sampingan dari perang, melainkan suatu ciptakan mulia yang diciptakan dengan tangan Tuhan sendiri. Ini memberikan harapan baru kepada kita bahwa sungguh Tuhan yang disajikan Musa mengerti betul akan seluruh ciptaanNya dan Dia bertanggung jawab penuh akannya.

Jadi, jika Israel ditanya oleh orang-orang sekitar, “darimana asalmu?” maka dengan lantang mereka akan menjawab “kami berasal dari Adam yang dicipta oleh Tuhan yang menjadikan langit dan bumi dan segala isinya.” Kalimat ini sekarang terdengar sepele, tapi sebenarnya kalimat ini sangatlah menantang pengertian setiap zaman untuk kembali berpikir ulang sebenarnya “siapa saya, apakah yang saya percaya itu benar?”

Dengan kalimat itulah juga sebenarnya Nabi Yunus pernah menjawab orang-orang yang bertanya pada dirinya. Apakah reaksi orang yang mendengarnya? Mereka langsung takut dan takjub bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan ini. Ini dikarenakan konsep saat itu yang sangat parsial dan lokal. Pengertian dewa saat itu sangatlah lokal sekali dimana seorang dewa hanya berkuasa akan satu hal saja di alam ini. Maka jika mereka mendengar adanya “dewa” yang berkuasa atas segala ciptaan ini, maka mereka takut sekali akan hal tersebut.

Jadi, saat membaca pasal pertama kitab kejadian ini, janganlah buru-buru mengeluarkan peluru-peluru sains yang kita punya dan memeriksa tulisan ini seakan ini adalah kitab ilmiah. Bukan, kitab ini bukan ditulis untuk itu. Bacalah pertama-tama karena kitab ini hendak bercerita tentang siapa yang membuat dirimu, diriku, dan setiap segala sesuatu yang pernah ada, sedang ada, dan yang akan ada.

Kitab ini sedang bercerita tentang “siapa”, bukan “bagaimana”, jadi berlakulah adil saat membaca narasi yang sedang disajikan ini.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s