Genesis 47 – Yusuf dan Hak Diskresinya

jacob_pharaoh_

Ya saya tahu bahwa Mesir bukanlah negara hukum modern seperti yang kita punya sekarang. Ini kerajaan yang mempunyai hukum dimana seorang raja menjadi administrator keadilan di negeri itu. Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya, jangan memakai kacamata kita saat ini untuk membaca tindakan Yusuf. Sebab, jika itu kita lakukan, maka tindakan Yusuf akan menimbulkan rasa kecemburuan sosial.

Mari kita lihat! Seluruh keluarga Yusuf menetap di tanah Goshen dan menggembalakan ternak Firaun dan juga ternak-ternak mereka sendiri. Kebutuhan mereka dijamin oleh Yusuf dan mereka tidak sampai harus menjual segala kepunyaan mereka demi mendapatkan makanan.

Lain halnya dengan setiap warga Mesir disini. Mereka perlahan-lahan, tahun demi tahun menjual milik mereka yang diakhiri dengan menjual diri mereka sebagai hamba Firaun demi mendapatkan makanan. Mengapa lalu bangsa Israel dengan tenang bisa hidup di tanah Goshen?

Namun sangat menarik saat membaca respon dari orang Mesir sendiri bahwa mereka bersyukur pada Yusuf yang telah menyelamatkan mereka. Mereka tidak dicatat komplain dengan kebijakan Yusuf yang menjadikan mereka semua hamba dari Firaun dan tidak memiliki apa-apa.

Disini saya berpikir bahwa memang ada cara pikir yang berbeda antara kita dengan mereka saat itu. Sebab, dicatat pula penyebab Israel diperbudak Mesir dikemudian harinya adalah karena jumlah Israel terlalu banyak dan bukan karena mereka diperlakukan khusus oleh Firaun sebelumnya. Fokus utama alasannya adalah jika kalau Israel terlalu banyak maka nantinya mereka bisa membelot dengan musuh Mesir dan menyerang Mesir bersama musuh tersebut.

Kembali pada tindakan Yusuf, kita melihat tindakan Yusuf disini adalah tindakan yang menguntungkan pihak kerajaan Mesir. Sekarang seluruh Mesir adalah milik kerajaan dan ini dilakukan tanpa peperangan melainkan karena urusan perut.

Saya jadi merenungkan peristiwa ini dalam relasinya dengan hidup kita. Yusuf yang dikatakan menjadi tipologi Kristus menyelamatkan umat segala bangsa (bahkan Yusuf diberikan nama Sang Juruselamat), dalam hal ini bearti kita semua adalah rakyat Mesir yang menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita menjadi hamba dari Tuhan demi mendapatkan makanan yang sejati.

Tentu bukan paralelisme cocoklogi yang dilakukan disini tetapi penghayatan akan peristiwa penyerahan diri tersebut yang memang bisa kita pelajari. Kita diundang untuk mengerti bahwa hidup kita hanya bisa berlanjur secara sehat jika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Dan itu diawali dengan kerelaan menyerahkan segala milik kita kepada Tuhan (kembali kepada Tuhan). Barulah kita dapat hidup karena mendapatkan makanan dan kita bersyukur karena hal tersebut.

Dan dalam kasus ini, bahkan penyerahan ini bukanlah sekedar untuk masa 7 tahun kekeringan, namun ini adalah penyerahan untuk selamanya kepada Tuhan. Jika kita mengaitkan Yusuf dengan tipologi Kristus, maka suka atau tidak, berarti yang gambaran utuhnya adalah kita (rakyat Mesir) percaya pada Kristus (Yusuf) untuk diberikan makanan dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Bapa (Firaun).

Dan disini saya lalu tercengang. Mengapa? sebab posisi Firaun yang sama ini (walau akhirnya dipegang oleh orang yang berbeda) menjadi simbol penindasan dosa dalam bagian-bagian lain di Alkitab. Saya rasa tidak mengapa sebab pelajaran yang pentingnya adalah penyerahan diri seutuhnya tersebut. Bukan tentang penyelamatan citra seorang Firaun sebagai si jahat.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s