Genesis 46 -Pengorbanan anak oleh Abraham, Ishak, dan Yakub

Pengajaran inti dalam keselamatan adalah pengorbanan Allah Tritunggal untuk menebus manusia, bahwa hanya karena anugerah kita diselamatkan, bukan hasil usaha kita sendiri (panjang lebar penjelasannya bisa di tulisan lain). Secara praktisnya digambarkan dengan Bapa mengorbankan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tentunya keberatan-keberatan teologisnya bisa juga diperdebatkan siang dan malam.

Saat ini saya hanya ingin menggariskan suatu peristiwa yang paralel namun tidak serupa yang menggambarkan bahwa tema seorang Ayah terpisah dari Anaknya itu bukanlah sesuatu yang asing bahkan sejak halaman awal-awal Alkitab

1 Abraham mengorbankan Ishak

rembrandt_abraham_en_isaac2c_1634

Peristiwa yang diperdebatkan umat Kristen dan Islam tentang siapa yang dikorbankan, apakah Ismael atau Ishak, sebenarnya menjadi salah satu puzzle terpenting dalam ajaran keselamatan Kristen. Peristiwa ini akan jauh lebih bisa dimaknai dalam worldview/wawasan dunia orang Kristen sebab erat kaitannya dengan tindakan Bapa di kemudian hari mengorbankan Anak.

Betul peristiwa ini :
– menguji ketaatan Abraham
– sangat tidak masuk akal
– mengundang pemikiran Allah yang tidak bermoral
– model iman orang percaya

Apapun alasan tersebut, pemikiran yang tidak negatif terhadap peristiwa ini hanya akan berakhir pada sebuah pengajaran perbuatan baik semata. “Kamu harus seperti nabi Ibrahim ya, taat kepada Allah” Titik. Tanpa kekayaan lain dari peristiwa ini.

Perenungan teologi Kristen akan peristiwa ini melampaui ajaran perbuatan baik tersebut. Perenungannya yang ultimat adalah peristiwa pengorbanan Anak Tunggal Allah di atas kayu salib tersebut. Bagaimanakah hubungan erat Bapa dan Anak bisa terpisah di atas kayu salib? Apa rasanya? Kesedihan yang mendalam seperti apa yang dirasakan Yesus di atas kayu salib karena ditinggal Bapa?

Semua kita bisa renungkan lewat kaca mata Abraham yang diminta mengorbankan Ishak. Anak kesayangannya ini harus disembelih. Anak perjanjian satu-satunya ini mengapa harus dimatikan? Sampai-sampai kita membaca bahwa Abraham pun percaya bahwa Ishak akan bangkit kembali jika seandainya ia diijinkan menyembelih Ishak akhirnya. Sebuah iman yang melampaui zamannya dipertontonkan Abraham pada dunia.

Bukan, ini bukan sekedar pengujian ketaatan semata. Maka dari itulah Abraham dikatakan Bapa orang beriman.

2. Ishak berpisah dari Yakub

isaac-blessing-jacob-1670large

Saya belum pernah membaca perenungan serupa dari peristiwa Ishak pada Yakub di literatur Kristen. Mungkin saya yang kurang baca. Tapi saya disini ingin menunjukkan juga bahwa Ishak pun mengalami hal serupa dengan ayahnya dulu.

Memang ia tidak diminta mengorbankan Esau (atau Yakub) kepada Allah. Tapi saya kira pengorbanan perasaan Ishak juga mirip disini. Bagaimana tidak? Ishak mengasihi Esau. Ia pikir Esaulah yang melanjutkan garis keturunan dia. Namun ia salah. Ternyata Yakub yang dipilih Tuhan. Itu pun dengan penipuan terhadap dirinya.

Namun mari kesampingkan semua itu dan fokus pada kehidupan akhir Ishak. Ishak yang tua ini akhirnya harus kehilangan Yakub anaknya karena mengembara. Memang Ishak memberkati Yakub untuk pergi, tapi sebagai seorang ayah disini, Ishak menurut saya cukup berkotban merelakan kedua anaknya ini berpencar dengan kemungkinan perang yang sangat tinggi

Ribka dalam hal ini juga berkorban akibat kepergian Yakub. Pdt Stephen Tong mengatakan bahwa Ribka tidak pernah bertemu lagi dengan Yakub sampai akhir hidupnya. Ini sama saja dengan kehilangan seorang anak sampai akhir hayat. Coba bandingkan dengan Abraham yang mendapat kemungkinan kehilangan Ishak namun tidak jadi. Bagaimana perasaan seorang Ayah dan Ibu yang kehilangan anaknya sampai akhir hayat akibat peristiwa penipuan tersebut?

3. Yakub kehilangan Yusuf

340b0a36caf7d07318bce438e54285f4

Bagian inilah yang menjadi fokus dalam bacaan kali ini. Mengapa Tuhan “diam” selama ini kepada Yakub? Bukankah Tuhan bisa saja berbicara pada Yakub bahwa “Anakmu, Yusuf, tidak mati melainkan dijual.” Mengapa Bapak tua ini dibiarkan dalam kesedihan begitu rupa mengira anaknya yang terkasih sudah meninggal?

Secara psikologis, Abraham itu diuji imannya dengan kemungkinan anaknya meninggal, dan akhirnya ia mendapatkan kembali dengan “instan”. Kalau Ishak, ia kehilangan Yakub secara fisik sungguhan sampai dekat akhir hayatnya sehingga ia sebenarnya hidup sendirian tanpa anak keturunannya sampai mati (walau ia tahu anaknya masih hidup disana). Sedangkan Yakub, ia harus menanggung kesedihan sebab sungguhan mengira anaknya mati selama bertahun-tahun dan akhirnya mendapatkan kabar sukacita bahwa anaknya masih hidup dan sudah menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Pada bacaan kali ini pun kita melihat bahwa hati Yakub hanya ingin satu hal saat membawa seluruh keluarganya hijrah ke Mesir, yakni bertemu Yusuf. Ia bukan memikirkan kemewahan Mesir namun hanya ingin mati dengan tenang setelah melihat bahwa Yusuf masih hidup

Semua kisah ini hanya secuil dari kisah ultimat yang ingin diceritakan sesungguhnya yakni peristiwa salib dimana relasi Bapa dan Anak sungguh terhilang saat itu. Bapa sungguh kehilangan Anaknya yang mati di kayu salib. Dan Anak sungguh kehilangan Bapa saat di atas kayu salib itu. Semua untuk menebus kita dari tuntutan hukuman akibat dosa. Jika ia adalah hakim yang adil, tentu ia tidak akan membiarkan kita melenggang tanpa hukuman bukan? Maka Ia tanggung sendiri hukuman yang sebenarnya tidak bisa kita tanggung tersebut.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s