Ratapan untuk negeri (part 1)

Negara ini didirikan oleh sekelompok orang yang tidak mengingat kepentingan dirinya dan golongannya sendiri. Tetapi dibelakangnya banyak berbaris orang yang egoisnya luar biasa lalu naik dan duduk di kursi pemerintahan yang telah dipersiapkan.

Setelah itu munculah orang-orang lain yang telah dibina untuk mengamankan posisi mewah tersebut dengan membuat kelompok yang lebih besar lagi. Di dalamnya, setiap orang pada dasarnya sedang memanjat dinding kekuasaan dan juga harta.

Orang demi mencari uang maka dengan mudahnya mengambil hak orang lain. Berlindung di balik dalih “tidak ada orang melihat” maka lancarnya praktik bagi-bagi kue dimanapun proyek besar dilaksanakan.

Untuk apa sih semua itu? Demi mempercantik istrimu yang sebenarnya semakin keriput karena dimakan usia. Demi memberikan kenyamanan pada anakmu yang akhirnya tidak pernah belajar beda haram dan halal.

Orang menggerutu pada penjajah mencuri kekayaan alam bumi pertiwi namun sendirinya menjadi penjajah di negeri sendiri. Sama saja si orang tidak berkekuasaan pun akhirnya pongah saat sudah berada di atas. Percuma berteriak keadilan saat berkuliah namun berdalih “karena tuntutan hidup” mencuri saat tangan diberikan kuasa.

Tulisanku adalah untuk rakyat, demi-mu lah negeriku aku berjuang. Begitulah dikumandangkan perjuangan orang-orang yang di dalam penjara menuntut kebebasan buminya tercinta. Mereka bukan tidak mengerti apa itu kenikmatan yang diberikan si yang katanya penjajah itu. Toh karena mereka akhirnya pendidikan itu masuk ke sini. Toh karena mereka akhirnya ilmu modern singgah disini.

Namun yang dituntut bukanlah kehidupan keadilan sosial yang diberikan orang luar berdasarkan perjanjian. Tetapi yang dituntut adalah kemandirian bangsa dengan mengusir mereka yang tidak berhak singgah disini sebagai penguasa.

Bukannya mereka lupa bahwa rumah sakit ini didirikan oleh mereka yang disebut penjajah. Bukannya mereka lupa juga bahwa rantai ekonomi pemberi mereka makan pun adalah rekaan bersama dengan kelompok yang mereka sebut penjajah. Sekali lagi, yang dituntut adalah kemandirian total yang menuntut perubahan fase secara diskontinu dengan menghempaskan unsur “si asing” ini dari negeri.

Namun sayang, kekosongan secara mendadak bukanlah suatu sistem setimbang yang akan tenang berjalan dalam waktu. Si idealis ini berjuang di garda depan menjaring pemuda pemudi lugu yang berpikir segalanya akan menjadi lebih baik. Tapi sesungguhnya, si kelompok egois itu lah yang akhirnya mengambil lini depan saat semua idelis sudah mati terkena peluru.

Licik cara main mereka. Percuma si penjajah itu diusir saat akhirnya mereka menjajah negeri ini secara “legal”. Tidak ada kata kesetaraan kesempatan dalam kamus komunitas ini jika seorang minoritas tidak bisa berjuang sampai ke atas lantaran penontonnya menyoraki agar ia jatuh.

Jadi semuanya itu bohong. Sejujur-jujurnya yang engkau inginkan bukanlah kebebasan bersama. Yang engkau inginkan adalah agar engkau nyaman dan orang lain menderita. Berlindung di balik jasa orang lain yang mati dan engkau berdiri di atas bangkai-bangkai sambil menghela nafas mengatakan “aku bebas”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s