“Penjajah” yang Legal

Apa sebenarnya penjajah itu?

Dalam buku sejarah yang diajarkan di sekolah, kita tentunya pernah membaca kisah tentang sejarah Indonesia pada masa lampau. Singkatnya mulai saja dari kerajaan-kerajaan Hindu Buddha sampai Indonesia merdeka. Dalam narasi itu disebutkan bagaimana kerajaan-kerajaan ini timbul dan runtuh karena satu dan lain hal. Lalu muncullah sekelompok orang dari luar yang dilabel sebagai penjajah sebab memang kelompok ini akan berkuasa atas tanah tersebut sampai beratus-ratus tahun kemudian.

Secara singkat sebenarnya mereka itu adalah pedagang dalam skala besar yaitu kerajaan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa memang dalam konteks perang tentunya kebrutalan sudah menjadi makanan sehari-hari yang tidak bisa lepas. Mana mungkin seorang berperang dengan kasih sayang? Rasanya sangat kontradiksi sekali.

Si pedagang ini datang dengan tujuan satu yaitu mendapat untung dari tanah yang subur ini. Pedagang ini tentunya mendekati petinggi-petinggi lokal baik raja maupun pemuka masyarakat. Ada yang digambarkan dengan cara licik supaya sekedar permintaannya diloloskan, ada yang menggunakan teknik adu-domba jika nyatanya ada lebih dari satu “pemuka” ditempat tersebut.

Narasi yang digambarkan sekali lagi adalah bahwa betapa jahatnya si penjajah ini (eh pedagang ini) hendak menguasai daerah yang akhirnya menjadi Indonesia tersebut. Rasanya begitu cepat terburu-buru hendak masuk ke dalam episode perang-perang kemerdekaan yang juga dikemas dalam gaya cerita heroik. (Saya tidak ada maksud negatif sama sekali dengan istilah pedagang atau pahlawan disini). Tapi sungguhan bukan, bahwa mereka semua itu sebenarnya hanyalah sekelompok pedagang?

Ah, tapi pedagang ini mempunyai kekuatan militer! Mereka mempunyai tentara untuk berperang di pihak mereka. Mereka bahkan didukung kerajaan yang memang sifatnya pemerintahan dan berkekuatan militer.

Disinilah menurut saya letak keterkaitan yang kita tidak begitu familiar saat ini. Kita mungkin biasa melihat pedagang bahkan yang sukses besar sekalipun. Tapi kita tidak biasa dengan konsep pedagang berkekuatan militer. Kita tahu ada pedagang yang menyewa satpam atau pasukan keamanan lainnya. Atau bisa saja mereka menyewa preman (atau dipalak preman) dengan ganti sebuah keamanan sekitar — yang padahal sesungguhnya itu adalah pekerjaan kepolisian setempat untuk memberikan rasa aman pada lingkungannya. Apapun itu, memang menjadi pedagang adalah posisi yang tidak bisa dilepaskan dari unsur pencipta keamanan. Entah siapa yang lebih butuh siapa menurut saya tergantung kekuatan siapa yang lebih besar.

Dalam konteks modern, kita sering mengeluh jika ada perusahaan asing bercokol di Indonesia dan mengeruk kekayaan Indonesia dengan sedikit saja memberikan hasil kembalik kepada Indonesia. Sebut saja perusahaan gunung itu yang sering diteriaki “keluar” oleh kita karena pikir kita mereka penjajah juga. Hanya saja, dalam kasus ini si penjajah itu legal. Kita sendiri yang memberikan hukum dan sesuai hukum tersebut maka mereka legal bertindak seperti itu. Jadi salah siapa?

Pasal 33 ayat 3 UUD memang menyatakan bahwa kekayaan alam (isinya) dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Tapi yang terjadi sekarang sebenarnya bisa dilihat dari kacamata seperti ini: si penjajah itu sekarang hanyalah berskala kecil yakni perusahaan/perorangan dengan kontrol eksternal dari pemerintah yang sah berasal dari kalangan orang-orang itu sendiri juga. Harapannya, jika si penjajah kecil ini sungguhan menjajah maka ada yang mengontrol supaya tidaklah terjadi demikian melalui adanya peraturan.

Namun yang terjadi? Akhirnya karena penyakit “sudah lama miskin” maka setiap pedagang/penjajah kecil ini pun menyogok pemerintah/penguasa lokal agar keuntungannya bisa menjadi milik bersama saja. Aji mumpung! Kita sudah lama miskin maka sekarang saatnya kita kaya. Bodo amat dengan orang lain yang bodoh dan tidak mengerti ini. Biarlah keturunan mereka mencoba berjuang di kehidupan lain.

Ah ironi! Gambarannya jadi sama persis dengan keadaan sebelumnya dimana penjajah bersekongkol dengan penguasa lokal. Namun saat ini kita tidak berbuat apa-apa karena kita pikir “dia bukan orang asing” padahal sifatnya sama saja dengan penjajah yang sudah diusir bersama itu.

Jadi benar jika Sukarno berkata bahwa perjuangan kita akan lebih sulit karena melawan bangsa kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s