Genesis 35 -Kehidupan “menurun” setelah kenal Tuhan

 

Bagian sebelumnya menceritakan bagaimana akhirnya seluruh laki-laki di kota Sikem dibunuh oleh Lewi dan Simeon saat kondisi mereka sedang kesakitan akibat sunat. Yakub sebagai kepala keluarga marah besar kepada dua anaknya ini. Namun pasal sebelumnya akhirnya ditutup dengan pertanyaan yakni “apakah kita harus memperlakukan Dina seperti perempuan sundal?” Pertanyaan ini akhirnya tidak pernah dijawab oleh siapapun. Malahan, kitab ini menggambarkan bagaimana akhirnya Tuhan mengintervensi semuanya dengan undangan beribadah kepada-Nya di Betel.

Apa hubungannya?

Tuhan jelas mempunyai rencana yang tidak bisa diubah. Sejak Yakub bergulat dengan-Nya di sungai Yabok, Tuhan sendiri yang menggiring Yakub untuk kembali ke Betel menepati janjinya kepada Tuhan, yakni menuhankan diriNya jika Yakub akhirnya bisa berhasil dalam perjalanannya ke Padan Aram.

Ya, janji yang sekilas terlupakan karena sudah beberapa pasal berlalu sejak Yakub bernazar demikian. Tuhan jelas tidak membiarkan Yakub terlena melupakan janjinya itu. Ia sendiri menunggangi segala peristiwa ini yang membuat akhirnya Yakub dan keluarganya (dan juga orang-orang jarahan dari Sikem) bergerak ke Betel untuk beribadah kepada Tuhan.

Dari perspektif kerajaan Allah, jumlah orang yang akhirnya (dipaksa) beribadah kepada Allah bertambah akibat orang jarahan tersebut. Yakub sendiri yang menyuruh seluruh orang itu membuang ilah asing yang ada pada diri mereka. Orang jarahan ini akhirnya dikondisikan untuk mengikut dalam gaya hidup keluarga Yakub.

Dalam pimpinan Tuhan, akhirnya satu keluarga besar ini bergerak berjalan tanpa diganggu oleh kota-kota sekitarnya karena teror dari Allah menimpa mereka semua. Mungkin kota-kota ini merasa sangat takut sekali untuk menyerang Israel dari apa yang mereka lakukan pada Sikem. Tapi juga, sebenarnya bisa saja mereka bersekutu untuk membalas dendam dan membebaskan orang jarahan tersebut. Namun, akhirnya kita melihat bahwa Tuhan tidak membiarkan rencananya diganggu dengan hal-hal seperti ini. Lagipula, bisa juga kita baca dengan arti bahwa Tuhan menghendaki orang jarahan ini untuk mengenal diri-Nya lewat Yakub.

Tuhan akhirnya menampakkan diri dan memberikan janji kepada Yakub, yang namanya diubah menjadi Israel. Janjinya tetap sama yakni perihal keturunan, tanah, dan berkat. Namun, kali ini lebih spesifik bahwa akan ada suatu bangsa dan raja-raja yang berasal dari keturunan Yakub tersebut.

Peristiwa penampakan Tuhan di Betel ini menjadi begitu penting saat kita melihat bahwa inilah momen puncak perjalanan hidup Yakub sebelum narasinya akan digeser kepada narasi kehidupan anak-anak Yakub. Saat melihat ini, saya semakin merasa bahwa sungguh tangan Tuhan yang besar itu menuntut dan sedikit memaksa agar Yakub segera sampai di Betel tanpa menunda lagi.

Bayangkan jika akhirnya Yakub tinggal di Sikhem seperti usulan Sikhem. Yakub dan keluarganya akhirnya kawin campur dengan warga kota, lalu kekayaannya jadi milik bersama (seperti yang dikatakan Sikhem kepada ayahnya). Tentunya ini akan menghambat rencana Tuhan untuk Israel secara khusus dan rencana keselamatan yang besar itu secara umum.

Walau benarnya dalam kacamata saya, kehidupan Yakub yang digambarkan setelah ini sebenarnya seakan tidak mencerminkan keluarga yang diberkati Tuhan dengan limpah dalam pandangan manusia. Setelah Yakub bergelut dengan Tuhan, memang benar bahwa Yakub akhirnya menjadi orang yang sama sekali baru dan kita sudah bahas sebelumnya. Kita melihat bahwa Yakub sungguh akhirnya bertanggung jawab penuh maju di depan menghadap Esau. Tapi faktanya cerita demi cerita yang disampaikan itu menunjukkan betapa bobroknya sebenarnya keluarga Israel ini. Mulai dari Dina, Lewi dan Simeon, lalu sekarang Rubeh berani meniduri gundik ayahnya sendiri.

Hidup Yakub pun tidak digambarkan dengan indah dan senang sebab Rahel akhirnya meninggal setelah melahirkan Benyamin. Orang yang menjadi alasan Yakub bekerja begitu keras di Padan Aram sekarang sudah tiada. Saya membayangkan betapa sedihnya hati Yakub saat itu dengan peristiwa yang datang bertubi-tubi. Jika saat itu Yakub tidak melihat Tuhan sebagai Tuhan yang memeliharanya, tentunya dia sudah depresi karena kehilangan Rahel yang benarnya belum tua ini.

Janji Tuhan sangat manis dan indah di dengar. Janji Tuhan itu pasti sebab sekarang kita melihat bagaimana satu per satu janji itu digenapi. Namun dalam kehidupan Yakub saat itu, ia harus bergumul dengan fakta kehidupannya dibandingkan dengan janji Tuhan tersebut. Inilah hidup, yang real nyata dalam hidup itu adalah yang sehari-hari, namun kita dibekali dengan janji Tuhan yang jauh lebih pasti walau saat itu seakan tidak nyata.

Saat kita melihat kembali ke belakang, barulah kita bisa melihat bagaimana tangan Dia sendiri yang menggiring, menuntun, dan memaksa kita terkadang untuk bergerak dan berjalan melalui jalan yang sama sekali tidak mulus itu.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s