Genesis 29 & 30 — Poligami Bukanlah Rancangan Tuhan

Mempunyai istri lebih dari satu bukanlah dicatat pertama kali disini. Setidaknya keturunan Kain ada yang memiliki istri lebih dari satu. Jika secara cepat kita telusuri sampai ke Nabi Nuh, maka kita melihat bahwa rancangan Tuhan akan dunia baru adalah sebuah keluarga yang terdiri dari satu suami dan satu istri. Rancangan ini sebenarnya adalah rancangan mula-mula tentang kehidupan semenjak Adam dan Hawa, namun seiring kehidupan manusia berjalan yang diselimuti fakta dosa, maka berpoligami adalah fakta sejarah yang kita hadapi.

Sudah saya tekankan di tulisan sebelumnya bahwa Patriark Israel yakni Abraham dan Ishak menekankan gaya hidup monogami seperti yang ditekankan Ishak dan Rebekah kepada anak bungsunya yaitu Yakub yang hendak pergi dari rumahnya kepada Laban (bisa dibaca disini). Memang Esau mempunyai istri lebih dari satu tapi setidaknya kita bisa melihat mana contoh yang baik dan mana yang tidak, bukan?

Ah, tapi bukankah Yakub pun akhirnya berpoligami? Lihat! Itu Lea dan Rahel, ditambah Bilha dan Zilpa yang kita baca saat ini. Empat orang sekaligus! Bukankah ini tanda bahwa Tuhan mengijinkan empat orang istri maksimum (seperti yang dianut oleh agama lain)? Kalau argumennya seperti itu, mengapa tidak beristri seribu seperti Raja Salomo? Tuhan pun mengijinkan itu terjadi.

From http://www.lampbiblepictures.co.uk

Kita harus bisa membedakan antara pembiaran, pengijinan, dan kehendak Tuhan yang seharusnya. Tuhan tidak diikat dengan kejadian di dunia ini yang kadang tidak sesuai dengan kehendak deskriptif yang Ia miliki. Tuhan tidak ingin ada pembunuhan antara manusia, namun rencana Dia tidaklah terganggu jika terjadi dosa demikian. Sama halnya seperti poligami ini, rencanaNya tidak terganggu dan bahkan terlaksana dengan tunggangan poligami ini. Lalu apakah sekali lagi itu artinya Tuhan setuju poligami? Ntah yang bertanya seperti ini sungguhan ngebet nikah berkali-kali dan tidak sayang istri atau apa, saya tidak tahu. Jawaban teologisnya sangat mudah yaitu, apakah Tuhan Yesus memiliki satu Gereja yang kudus dan am atau lebih dari satu Gereja?

Kitab Kejadian, menurut Tim Keller, adalah kitab yang sangat gamblang menggambarkan kehidupan manusia yang terjadi baik dari yang jahat maupun yang sepatutnya. Kita membaca kisah Yehuda melacur, Abraham berbohong, dan Yakub berpoligami. Semua ditulis dengan gamblang dan juga resiko yang dihadapi.

Resiko … saya rasa kata ini kurang tepat sebab resiko saat ini diartikan sebagai sesuatu yang buruk yang bisa kita ambil atau tidak saat kita mau melakukan sesuatu contoh: resiko bisnis. Intinya, resiko adalah ajang unjuk kebolehan kesaktian diri menghadapi tantangan. Padahal, arti dari setiap penulisan di Kitab Kejadian ini adalah untuk memperingati manusia bahwa itu bukan yang Tuhan inginkan.

  1. Kakak beradik (para istri) yang saling iri

    Lea dan Rahel, yang semenjak lahir sudah mengetahui keberadaan mereka yang timpang secara fisik, sekarang diberikan wahana untuk saling unjuk gigi kebolehan masing-masing menghasilkan anak laki-laki. Sangat terlihat efek langsung dari poligami adalah kompetisi antar istri.

    “Oh tidak, saya bisa secara adil mengurus istri-istri saya. Lihat sampai saat ini mereka akur-akur saja”
    Baik, mungkin betul sangat adil menurut anda sebab sekarang tidak terjadi perseteruan. Namun artinya saya rasa anda kurang paham betul bahwa pernikahan itu bukan seperti membagikan kue yang besarnya sama rata kepada istri anda.

    Anda memberikan diri anda seutuhnya kepada istri anda yang satu-satunya itu atau tidak sama sekali. Tidak bisa anda memberikan diri anda seutuhnya kepada dua orang atau lebih. Yang ada, nantinya tidak ada satupun istri anda yang tidak mendapatkan anda sama sekali. Saya tidak sedang berbicara mengenai harta benda dan hubungan seksual. Tapi keseluruhan diri anda sendiri. Siapa yang mendapatkan itu? Tidak ada. Sebaliknya, anda juga tidak mendapatkan satupun dari istri anda sekalipun mereka ada di dalam rumah anda sendiri.

    Sungguh ironi bukan?


  2. Suami menjadi properti

    Hal ini terjadi sungguhan antara Lea dan Rahel saat Yakub “disewa” bermalam di tempat Lea setelah Ruben menjual buah petikannya kepada Rahel. Anda pikir istri anda akur? Jika kedua istri anda bertipe dominan, maka bersiaplah menjadi properti seperti ini dalam keluarga sendiri.

  3. Pilih kasih berbuah bencana

    Sejak semulanya, Yakub memang mengasihi Rahel. Lea tidaklah ia kasihi. Anda mungkin berpikir bahwa saya mengasihi istri pertama saya sedangkan Yakub tidak. Tapi sadarkah anda apa alasan anda berpoligami sejak mulanya? Bukankah serupa saja dengan Yakub yakni tidak mengasihi istri pertama seperti dahulu lagi sehingga butuh istri muda?

    Jangan membohongi diri anda sendiri. Tuhan berfirman lewat Salomo bahwa hendaklah setiap laki-laki selalu berahi pada istri yang sejak muda ia dapatkan itu. Artinya bahwa istri yang satu-satunya itulah yang harus selalu kita kasihi senantiasa. Ini dikatakan oleh orang yang sudah beristrikan 1000 perempuan. Jadi apa alasan anda hendak berpoligami jika bukan karna ada bibit pilih kasih?

    Pilih kasih ini juga berbuah pahit pada kehidupan anak-anak mereka yang akan dibahas di kesempatan lain.

  4. Hidup yang pahit

    Dalam akhir hidupnya, Yakub menyimpulkan bahwa hidupnya adalah suatu kehidupan yang sukar dan pahit. Hal ini dikatakan kepada Firaun yang menanyakan umur berapakah Yakub ini. Kepahitan Yakub tentu bisa dilihat sejak semulanya bahwa ia ditipu tidak mendapatkan istri yang paling ia kasihi semulanya. Lalu istri ini mandul dan melahirkan anak setelah beberapa lama. Lalu istri ini meninggal terlebih dahulu dan dikuburkan di perjalanan Yakub menuju tanah yang ditunjukkan Tuhan.

Dibalik itu, benar adanya bahwa ada banyak hal yang Tuhan kerjakan melalui peristiwa poligami ini, yakni pengudusan setiap individu yang adalah bagian dari kerajaan Tuhan. Ada juga rencana umum Tuhan yakni menyelamatkan kehidupan manusia dari bencana kelaparan melalui Yusuf yang adalah anak Rahel, yang dijual oleh saudara-saudaranya yang adalah anak Lea, Bilha dan Zilpa. Disinilah kita bisa mengingat kembali ayat dari Roma 8:28 bahwa “segala hal turut bekerja untuk kebaikan”, segala hal baik yang dosa maupun yang tidak, sebab ada pengatur utamanya di belakang semua itu yaitu Tuhan sendiri.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s