Apa hubungan memasak dengan riset?

Pendekatan memasak saya sangat berbeda dengan pendekatan orang kebanyakan belajar memasak. Mungkin ada yang belajar dari ibunya saat memasak di rumah, ada yang murni mengikuti resep yang diberikan orang lain, ada juga yang berkreasi sendiri namun berdasarkan resep orang lain juga.

Ada pepatah Inggris bahwa “if it still work and is not broken, then use it“, yang artinya jika resep lama ini masih bagus ya tidak mengapa tetap digunakan. Begitulah pendekatan kebanyakan orang belajar memasak dengan menggunakan resep.

“Oh ini resep turunan keluarga saya!”
“Oh ini resep ibu saya”
dan “oh ini” yang lainnya

Tapi kalau jujur, memangnya nenek moyang kita langsung menerima resep itu dari langit begitu? Bukankah mereka sendiri juga mencoba-coba dan menemukan inilah resep terenak dengan takaran sekian. Saat ini (khususnya perempuan yang mau/sudah menikah) orang enggan mencoba-coba eksperimen dengan masakan tanpa tuntunan resep dikarenakan adanya tuntutan si mulut pemakan lainnya.

Bagaimana tidak? Mungkinkah seorang istri akan bereksperimen sendiri tentang masakan dia sedangkan hasil makanan itu sudah ditunggu orang serumah yang kelaparan? Ya setidaknya disinilah letak beban penahan kreatifitas masak-memasak — apalagi kalau yang menunggu adalah mertua yang mulutnya bawel.

Karena saya tidak punya beban itu, maka saya bebas saja berkreasi sendiri untuk mengetahui efek dari masing-masing bumbu masak yang sudah terkenal di masyarakat. Setidaknya disini saya akui bahwa saya tidak sekreatif itu mencari jenis bumbu masakan baru dari alam (kadang orang tidak perlu terlalu seekstrim itu untuk mulai belajar).

Maka dari itu, saya jadi berpikir bahwa ini tidak beda dengan halnya riset fisika eksperimen (misalnya). Saya bereksperimen dengan kondisi-kondisi tertentu yang saya catat baik-baik lalu mengeluarkan hasil yang sedemikian rupa. Jika hasil riset ini bagus, tentunya akan menjadi publikasi ilmiah yang sangat baik dan berguna nantinya. Kadang ada orang lain yang hendak menduplikasi pekerjaan saya dengan cara membaca publikasi saya lalu berkreasi dari situ.

Dari sini, jelas saja bahwa paper ilmiah itu sama halnya seperti resep makanan. Ada resep makanan yang rahasia sebanding dengan resep teknologi yang rahasia, atau ada juga yang secara umum dibuka ke masyarakat untuk memasak sebanding dengan jurnal ilmiah riset yang berbedar umum.

Jadi, manusia sebenarnya memang diberikan bekal untuk bereksperimen dalam kapasitas apapun. Jangan sebut anda tidak pintar, jadi tidak bisa bersekolah tinggi-tinggi lalu artinya anda tidak melakukan riset. Sebab faktanya bahwa dalam hal kecil seperti memasak pun sebenarnya itu ekspresi pengetahuan manusia yang asalnya juga dari Tuhan.

Terakhir, saya jadi merenungkan fakta bahwa Indonesia mempunyai karya kuliner yang melimpah, yang artinya nenek moyang kita jaman dulu sangatlah terampil dan bisa dikatakan periset sejati yang menghasilkan karya ilmiah yang sangat mumpuni. Buktinya mereka bisa terpikir membuat rendang, sambal balado, gudeg, coto makasar, ikan arsik, dll yang tidak dihasilkan di daerah lain. Bahkan kita harus akui bahwa budaya makanan dari tradisi cina pun akhirnya menjadi lebih kaya saat berbaur dengan budaya lokal saat itu. Kari India pun akhirnya menjadi lebih kaya rasa saat hadir di Asia Tenggara khususnya Indonesia. Apa sih yang bisa membuat variasi seperti itu? Tentunya keterampilan dan juga pengetahuan akan masing-masing bumbu dapur tersebut. Apa ya yang akan terjadi kalau saya campurkan santan ke kukusan beras saya? Yakin deh, seorang yang jago masak akan tahu bumbu apa yang kurang dalam satu jenis masakan tertentu.

Jadi mengapa saat ini karya ilmiah kita tidak sebanding dengan karya ilmiah negara lain? Kita masih bisa berbangga akan makanan kita namun kapankah kita juga berbangga akan riset kita? Asal tahu saja, perlahan tapi pasti, kuliner Indonesia ini akan merambah kemana-mana dan setidaknya mampu bersaing dengan karya kuliner dari negara manapun. Bahkan, saya pernah mendengar (harus dipastikan lagi) bahwa rasa asli ciri khas Indonesia itu sulit diproduksi ulang oleh koki-koki berpendidikan sekalipun. Jadi sangat aneh jika kita terpikat dengan jenis makanan cepat saji yang hanya bermodal kentang goreng, ayam, tepung, lada, dan “bumbu rahasia” yang benarnya tidak begitu rumit membuatnya (bandingkan dengan rendang).

Jadi saya tidak percaya kalau Indonesia tidak akan menggeliat juga risetnya disaat kita kembali menghidupi apa yang nenek moyang kita jaman dulu miliki untuk memasak. Jika melihat polanya dari jenis masakan, seharusnya banyak pengetahuan dan teknologi dari luar boleh saja datang ke Indonesia, namun di Indonesia akan semakin diperkaya dan didiversifikasikan jenisnya lebih ragam lagi. Buang kebiasaan patuh pada “resep” semata. Belajar dari pengalaman orang lain sangat perlu, tapi berkreasi di atas itu adalah hal yang mendorong maju.

Dan sangat menarik saat tahu sudah ada grup yang mencoba menghubungkan memasak dengan disiplin riset ilmiah dan juga mengaitkannya dengan seni. Linknya bisa dilihat disini.

di kesempatan lain mungkin saya bisa menulis tentang hal memasak 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s