Genesis 29 — Anakku Harus Menikah Maka Kutipu Dia

by William Dyce

Kisah ini cukup terkenal sebab bisa ditelaah dari berbagai aspek. Contohnya:

  1. Aspek penipuan. Orang yang berbohong dibalas orang yang berbohong juga.
    Maksudnya adalah saat Laban menipu Yakub itu dilihat dari perspektif ganjaran untuk Yakub yang juga menipu ayahnya.
  2. Aspek pemberhalaan hal-hal baik. Berhala itu bukanlah berbentuk patung saja, tapi bisa berbentuk hal-hal lain yang sebenarnya baik untuk manusia namun dijadikan hal terpenting yang akhirnya menjadi berhala. Bisa dicek di kotbahnya Tim Keller yang bertajuk “struggle for love

Saat ini saya hendak melihat dari perspektif Laban. Komentar ini sangatlah singkat dan dengan data minim yang didapat dari uraian peristiwa di Kejadian saja. Jika ada unsur lain yang bisa dimasukan terutama dari perspektif budaya nanti akan diperbarui.

Saya tertarik untuk melihat kalimat Laban bahwa

Laban said, “It is not so done in our country, to give the younger before the firstborn.

Anggaplah betul yang dikatakan Laban itu, lalu apa hal yang bisa dipetik?

Terlepas bahwa niatan Laban menipu itu terkuak dari kalimat dia selanjutnya yang menuntut Yakub bekerja kembali selama tujuh tahun untuk Rahel, keseluruhannya ini benarnya bisa juga dilihat dari perspektif seorang ayah yang semata ingin anak-anak perempuannya ini segera menikah.

Disinilah letak minimnya pengetahuan saya tentang keadaan sosial saat itu. Maka yang bisa dilakukan hanya menebak-nebak tentang alasan Laban tersebut. Urutan pemikiran saya adalah sebagai berikut

  1. Kedua kakak beradik ini tentulah di dalam usia menikah
  2. Faktanya mereka berdua belum menikah mungkin dikarenakan Lea yang tidak laku
  3. Laban memilih untuk taat pada tuntutan sosial yakni harus menikahkan Lea dulu sebelum Rahel
  4. Sehingga, walaupun ada yang hendak menikahi Rahel, hal tersebut tidaklah mungkin dilakukan karena Lea belum menikah
  5. Sebagai tambahan, mungkin banyak lelaki di daerah itu yang dalam posisi menunggu kapan Lea menikah baru dia menghampiri hendak menikahi Rahel

Setelah itu datanglah satu laki-laki yang bernama Yakub ini dengan tujuan yang jelas salah satunya yaitu mencari istri. Maka Laban mencari cara agar seluruh anaknya ini dinikahkan sekaligus saja. Hal ini tentunya tidak bisa ia lakukan sebelumnya dengan lelaki di daerah itu jika satupun tidak ada yang menghampiri dia untuk meminta anak perempuannya. Ini pertama-tama karena tidak ada yang hendak menghampiri Lea, dan yang ingin menghampiri Rahel harus menunggu dulu karena tuntutan sosial.

Lagipula, kalau dipikir-pikir, Yakub sebenarnya mendapatkan apa yang ia inginkan juga. Yakub mendapatkan Rahel setelah 7 tahun pertama dia bekerja (ditambah satu minggu pernikahan dengan Lea). Yakub bukannya menunggu 14 tahun lalu mendapatkan Rahel. Tapi memang betul bahwa dia ditipu harus bekerja lagi selama 7 tahun sebagai uang pembayaran Rahel. Bedanya jadi yang satu didapat dimuka, yang satu didapat dibelakang.

Dengan begini, jadinya Laban bisa melaksanakan tuntutan sosial yang dia alami dan juga menikahkan kedua anaknya. Disini setidaknya kita bisa lihat bahwa mempunyai satu istri itu bukanlah tuntutan sosial sekitar Laban. Padahal dari pembacaan yang lalu sudah kita tekankan bahwa Ishak dan Ribka memberikan wejangan kepada Yakub untuk mengambil seorang istri saja. Yakub disini jadi tidak mengikuti pesan kedua orangtuanya dan jelas bukanlah kondisi ideal tuntutan Tuhan.

Tapi sebenarnya siapa sangka bahwa hal tentang istri inipun akhirnya ditunggangi Tuhan untuk menepati janjiNya pada keluarga Patriark ini dalam hal keturunan. Dari penyimpangan inilah akhirnya nanti keduabelas suku akan muncul dan yang akhirnya menjadi bala tentara Tuhan.

Hal ini bukanlah jaminan sama sekali kita bebas untuk menyimpang dari jalan Tuhan sebab sepertinya kok Tuhan bisa mengalirkan anugerah dari penyimpangan ini. Hal ini juga yang disinggung Paulus di tulisannya kepada orang Roma bahwa kita tidak boleh lalu menjadi semakin berbuat dosa seenaknya sebab toh anugerah Tuhan semakin terasa melimpah dari situ.

Bacalah ini sebagai fakta kehidupan bahwa kita akan sering dihadapkan dengan realita sosial dimanapun kita hidup. Pertanyaannya adalah apakah kita lalu membuang prinsip Firman Tuhan, mengkompromikannya, dan lalu hidup damai dengan sekitar? Dalam kasus ini Laban lebih memilih mengorbankan sanak saudaranya demi mukanya terselamatkan dari gunjingan sosial. Toh ini saudaranya sendiri, tentulah dia tidak akan bertindak apa-apa jika dia tipu sedikit. Sedikit saja lho, toh dia akhirnya dapat juga si Rahelnya.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s