Genesis 3 – Antara Aku, Taman Eden, dan Rujak Petis

Kisah kejatuhan sering kita dengarkan namun juga sering kita lupakan. Kita membacanya, merasa simpati (atau empati?) dengan Adam dan Hawa, menyesali keadaan saat itu (dan juga saat ini), lalu berusaha cepat-cepat membersihkan pikiran kita kembali agar keadaan saat ini tidak seburuk itu kita jalani.

Faktanya, Kejadian 3 adalah alasan dari segala alasan mengapa segala sesuatu yang kita lihat di dunia ini adalah sebagaimana kita lihat saat ini. Ini adalah alasan pertama-tama mengapa ada kejahatan di dunia ini, dilanjutkan dengan mengapa ada kesusahan atau penderitaan di dunia ini, dan diakhiri dengan mengapa akhirnya toh semua manusia akan mati mengakhiri kejahatan(nya) dan juga kesusahan(nya) dan penderitaan(nya).

Inilah yang disebut dosa. Inilah fakta di belakang layar yang menyelimuti kehidupan baik dari bayi dikandungan sampai kakek/nenek jompo dimanapun.

Sebagai penonton terkadang kita mengidap penyakit umum dimana “yang nonton lebih jago dari yang bertanding”. Komentar kita bisa sangat pedas sekali untuk mengkritik dan menjatuhkan. Penyakit ini berubah bentuk saat kehadiran media sosial memberikan kesempatan kita untuk mencatat sejarah penting dalam umat manusia yakni komentar-komentar yang berseliweran menanggapi apapun.

Seakan-akan seluruh Indonesia jadi pintar politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dll — mengomentari Presiden Jokowi memimpin negeri, menanggapi insiden Tolikara dengan semangat agamis, mengkritik Ahok dengan kacamata SARA, mengutuk tukang ojek yang menganiaya tukang ojek lainnya, memaki kawan yang tidak setuju dengan kita, dsb.

Hal ini pun terjadi dalam pembacaan kita atas Kejadian 3.
Kita merasa “Adam bodoh sekali!”
atau “Jika aku menjadi Adam, tidak mungkin aku makan buah itu!”
atau “Harusnya Adam jaga istri baik-baik!”
Apapun respon kita, sebenarnya ini memiliki asumsi dasar yang sama yakni “Jika aku menjadi Adam, aku tidak akan melakukan itu, melainkan … (isi sendiri)”

Sederhana saja responsnya untuk ini — Omong kosong! Sebab jika kita menjadi Adam, maka kita akan melakukan hal yang lebih buruk.

Saya merenungkan bahwa jika saya yang menjadi Adam, mungkin yang terjadi adalah bukan sekali saja saya akan makan buah itu. Istri saya mungkin saja yang memberikan itu pertama kali. Tapi setelah dirasa enak, mungkin malah saya akan jadikan itu petis buah bersama buah-buah lainnya yang biasa saya makan. Lalu saya cangkok pohonnya supaya bisa tumbuh juga di tempat lain jadi mudah dijangkau dimana-mana dan tidak perlu ke tengah taman Eden.

Tidak sadarkah kita bahwa respon Adam dan Hawa setelah memakan buah itu adalah respons termurni manusia yang baru saja mencicipi dosa pertama kali? Mereka malu dan takut.

Ketelanjangan adalah hal sensitif pertama yang tersentuh saat dosa itu pertama kali masuk. Maka dari itu, pakaian adalah hasil budaya yang hadir pertama-tama hadir karena alasan emergency menutup aurat. Saya tidak percaya kalaupun tidak ada dosa lalu manusia jadi tetap telanjang. Pakaian adalah potensi budaya yang sangat indah dimana saat ini pun kita menilai orang yang tidak berpakaian (bahkan yang berpakaian kurang tepat) sebagai tidak berbudaya, tidak sopan, dan lain-lain. Tentu ekses dalam menjadikan pakaian sebagai penopang kesombongan bukan diperhitungkan sebagai budaya disini.

Maka, sangatlah bodoh jika ada gerakan yang ingin membiasakan manusia untuk hadir telanjang di ruang terbuka dengan alasan opresi dan ekspresi kebebasan. Inilah logika aneh yang saya sering temui jika kita menghidupi narasi murni evolusi yang beredar saat ini. Jika kita sungguh adalah evolusi dari bentuk yang lebih rendah (binatang), mengapa lalu kita mematok standard kita dengan apa yang binatang lakukan juga? Berargumenlah dari apa yang manusia lakukan dan bukan binatang lakukan (setidaknya untuk setia dengan cara pandang itu). Jadi, kalau cara pandang itu tidak bisa dihidupi, maka mungkin sekali naras itu ada salahnya.

Kembali kepada peristiwa kejatuhan itu sendiri, sangatlah terlihat bahwa diri kita sudah jauh dari kepekaan mula-mula seperti milik Adam dan Hawa. Kita bahkan tidak lagi segitu pekanya bahwa kita setelanjang itu. Kita tidak lagi peka bahwa orang lain telanjang. Kita tentu masih sadar apa itu kondisi telanjang apalagi dengan kehadiran video dan gambar porno di internet. Tapi respons seperti Adam dan Hawa sudahlah tidak kita miliki, sebab kita tidak merasa iba akan mereka yang tidak memiliki pakaian atau sengaja tidak memakai pakaian. Bahkan mungkin kita malahan menikmati orang yang tidak memakai pakaian.

Jika kembali kepada rujak petis, setidaknya kita mengetahui bahwa Tuhan masih berbelas kasihan dengan Adam dan Hawa sehingga Ia langsung menemui mereka setelah mereka jatuh. Jika Tuhan tinggal diam saja, mungkin betul Adam akhirnya buka pusat pengolahan buah pengetahuan bersama Hawa, dengan ular sebagai “sales-animal”-nya. Namun kita patut bersyukur bahwa Tuhan datang mengintervensi kejadian tersebut dan membuka mata mereka akan hal lain yang lebih menakutkan ketimbang telanjang, yaitu “dimanakah engkau? [engkau nanti akan mati kalau begini terus]”.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s