Respons singkat terhadap kasus penolakan order kue pernikahan sesama jenis oleh bakery di Oregon

http://christiannews.net/2015/07/03/christian-bakers-who-declined-to-make-cake-for-gay-wedding-ordered-to-pay-135000-to-lesbians/

Lawsuitnya masalah emotional attack terhadap pasangan lesbi yang order kue pernikahan mereka tidak dilayani.

Kita tidak tahu apakah si pembuat kue ini menggunakan verbal abuse atau nadanya sangat kasar
(yang saya ragukan terjadi karena dicatat dia biasa melayani kaum homosexual asal saja bukan tentang event pernikahan mereka). Jadi poin disini adalah sangat tidak mungkin si ibu ini adalah seorang homophobic.

Terlepas dari itu, saya rasa kembali ke masalah bahwa ini masalah keyakinan dan bukan sekedar hal conventional yang harus disama ratakan untuk semua orang. Kalau sudah pada sadar bahwa ini masalah fundemental belief, hal ini seharusnya dikategorikan sebagai religious attack.

Bisakah seorang butcher yang muslim dipaksa memotong hewan dagangannya dengan cara dilistrik mati? Kalau pakai logika hukum disini jadinya “ini bukan masalah kepercayaan, tapi masalah ada orang minta daging dan tidak diberi”

Dalam detilnya memang terjadi perbedaan
Kasus 1: proses buat kue sampai diserahkan ke pasangan homosexual itu sebenarnya sama saja. ini masalah hati nurani yang tertegur karena tujuan akhir dari kue yang dijual ini tidak sesuai dengan keyakinan

Kasus 2: proses potongnya sudah tidak sesuai dengan keyakinan, jadi ini lebih terlihat memaksakan religious belief ketimbang sekedar bisnis

Dan ini akhirnya ditarik lebih jauh ke ranah etika lain, seberapa jauh sebenarnya pedagang bertanggung jawab akan dagangannya?
Orang bisa saja berkata kepada si ibu ini agar ia bisa saja memberikan kue itu dan tidak peduli kue itu dipakai untuk apa. Toh dia hanya berbisnis: saya jual, anda beli, barang yang dijual terserah anda mau diapakan.

Tapi nyatanya tidak begini juga kan? Bukankah banyak pedagang beralih menjadi lebih peduli dengan barang dagangannya? Sebut saja fitur garansi yang diberikan barang dagangan elektronik. Apakah ini sekedar goodwill and goodmove dari pedagang semata sehingga ini bukanlah kesatuan paket dari perdagangan? Lagipula, ada juga kan pedagang yang menyatakan “barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan” yang artinya memang itu sudah menjadi barang kamu dan bukan tanggung jawab saya melainkan tanggung jawab kamu sepenuhnya.

Saya rasa ini bukan “either or” case, tapi “both and” case. Dan dalam praktiknya akan ada spektrum tanggung jawab yang dinyatakan dan ini menurut saya bersifat dinamis. Dalam kedinamisan ini, menurut saya si hakim dan juga si pasangan lesbian ini harus mengerti bahwa si ibu pembuat kue ini masih mau bertanggung jawab sampai kemana kue dia akan digunakan.

Dan ini adalah religious belief dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s