Genesis 22 & Exodus 12 — Selamat Paskah ! part 2

Abraham Sacrificed Isaac by Rembrandt

Satu hal yang menarik dalam iman Kristen adalah overarching story yang ditawarkan. Melihat perdebatan seorang Rabbi dan seorang Ulama mengenai siapa yang dipersembahkan sebagai korban oleh Abraham membuat saya tertegun.

  1. Peristiwa Abraham mempersembahkan anaknya sangatlah gila Peristiwa ini pada dirinya sendiri adalah peristiwa yang sangat gila. Melihat perdebatan siapa yang dikorbankan di atas mezbah membuat saya berpikir ini seperti melihat perkelahian keluarga yang ditonton oleh khalayak ramai. Bagaimana tidak? Jika saya berasal dari agama non-Abrahamik atau seorang ateis, agnostik, dsb, maka sungguh ini adalah peristiwa gila yang sedang diperdebatkan. Intinya, apakah Abraham cukup gila mempersembahkan anaknya Ishmael atau dia gila hendak mempersembahkan anaknya Ishak?
    1. Jika Ishmael Apakah Abraham merasa salah menghamili seorang perempuan yang bukan istrinya sehingga akhirnya ia mau membunuhnya? Atau mungkin ini bisikan istrinya sendiri yaitu Sara yang memang sejak awal sudah membenci Hagar saat Hagar sedang mengandung?
    2. Jika Ishak Apakah Abraham sudah sakit tua sehingga anak yang ia dapatkan di masa tuanya ini hendak dipersembahkan?
  2. Tapi itu adalah perintah Tuhan! Mungkin tiba-tiba khalayak ramai tersebut ada yang melontarkan komentar “kalian gila!”. Saya berpikir pastilah serentak dibalas dengan kalimat “Ini perintah Tuhan!”. Case closed. Khalayak ramai mungkin ada yang kecewa, atau mungkin juga ada yang berceloteh “Tuhan kalian gila!”
  3. Tapi Tuhan melakukan itu untuk menguji! Betul, memang dalam kedua penuturan kisah tersebut, Tuhan digambarkan memang menguji apakah Abraham taat atau tidak pada Tuhan. Toh akhirnya tidak ada satupun anak Abraham yang dibakar di mezbah tersebut sebab ada hewan pengganti yang disediakan Tuhan.

Semua pihak setuju pada poin akhir dari peristiwa ini. Tidak ada satupun yang menyanggah bahwa akhirnya Abraham toh akhirnya menyembelih hewan pengganti yang disediakan Tuhan dan bukan anaknya. Tapi, kembali pada overarching story yang saya sebutkan di atas, lalu apa intinya peristiwa ini dicatat? Atau lebih telitinya, apa tujuan Tuhan merancang peristiwa ini? Dalam peristiwa Paskah ini, saya kembali merenungkan bahwa sungguh setiap perbuatan Tuhan tidak sia-sia. Setiap hal dilakukan Tuhan dengan maksud tertentu. Untuk peristiwa pengujian Abraham ini juga demikian (dan jelas saya akan berargumen dengan landasan Ishaklah yang dikorbankan)

  1. Abraham mengorbankan Ishak sebagai tipologi Bapa mengorbankan Anak Kembali pada peristiwa Jumat Agung, Allah Bapa mengorbankan AnakNya satu-satunya di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Dari perspektif Abraham, memang peristiwa ini adalah bentuk pengujian pada dirinya. Namun, dari perspektif Allah, ini adalah caraNya untuk menunjukkan kepada manusia akan apa yang akan Ia sendiri lakukan ribuan tahun kemudian melalui Anaknya, Yesus Kristus.
  2. Ishak adalah tipologi Kristus Ishak sebagai anak perjanjian satu-satunya antara Allah dan Abraham adalah tipologi Kristus yang adalah Anak Tunggal Allah Bapa. Kelahiran Ishak adalah sebuah mujizat yang sudah kita diskusikan sebelumnya di sini. Jika kelahiran Ishak adalah mujizat yang masih bisa disanggah, kelahiran Yesus Kristus adalah sebuah mujizat yang secara dukungan fakta tidak mungkin disanggah lagi sebagai mujizat. Memang masih bisa disanggah bahwa Kristus adalah anak haram dimana Maria selingkuh dan tidak bersuami. Tapi berdasarkan klaim yang tercatat, kedua kelahiran ini adalah sebuah papan penunjuk (Ishak) dan yang ditunjuk (Yesus Kristus).
  3. Ishak adalah tipologi manusia Selain sebagai tipologi Kristus, Ishak juga adalah tipologi manusia. Terutama pada peristiwa substitusi yang dilakukan Allah sendiri saat Ishak hendak disembelih. Allah sendiri yang menyediakan korban bakaran untuk diriNya sendiri lewat hewan pengganti. Dalam perspektif ini, hewan tersebutlah yang menjadi gambaran Kristus yang menggantikan manusia (Ishak) untuk dikorbankan.
  4. Iman Abraham melampaui zamannya Abraham sebenarnya tidak gila. Abraham mendengar betul perintah Tuhan untuk mengorbankan Ishak. Namun mengapa Abraham setuju-setuju saja dan tanpa beban berat? Kita tidak bisa menghakimi apakah Abraham berbeban berat atau tidak. Namun, yang pasti Abraham dikatakan memiliki iman yang cukup melampaui zamannya yaitu bahwa Ishak bisa Allah bangkitkan kembali sekalipun Ishak akhirnya disembelih sungguhan.

    Ibrani 11:17-19 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Bagi saya, cerita yang memiliki benang merah yang kuat ini mempunyai nilai appeal yang lebih tinggi ketimbang peristiwa terpisah yang dijelas juntrungannya mau apa. Dalam peristiwa Paskah, maut dikalahkan saat Kristus bangkit. Jika Kristus bangkit, maka sebenarnya perdebatan Ishmael atau Ishak bisa segera dihentikan. Keutuhan cerita yang hendak disampaikan sangatlah berbeda jauh jika Ishmael yang dipersembahkan dan bukan Ishak. Namun, sekali lagi, jika Kristus tidak bangkit, maka iman Kristen adalah sia-sia, dan silahkan lanjutkan perdebatan mengenai Ishmael dan Ishak. bersambung ke sini untuk Exodus 12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s