Respons Singkat Terkait “The Chapel Hill Murders”

Peristiwa pembunuhan tiga pemuda muslim di Amerika baru-baru ini sangat membuka mata beberapa pihak. Dari pihak Muslim, tentunya ini bisa dibaca sebagai bentuk arus anti-Muslim yang ditakutkan berkembang pasca kejadian penembakan komikus satir Charles Hebdo. Di pihak Ateis, seperti Sam Harris, sangat wajar ditemukan pembelaan ideologi mereka dengan pelabelan “ateis militan” untuk membedakan kubu dia dengan oknum yang melakukan penembakan ini. Saya mengetahui respons ini secara khusus saat membaca blog Ioanes Rakhmat (http://ioanesrakhmat.blogspot.co.uk/2015/02/a-short-letter-to-sam-harris.html) dalam suratnya kepada Sam Harris (https://www.samharris.org/blog/item/the-chapel-hill-murders-and-militant-atheism).

Benar-Salah, relatif?
Benar-Salah, relatif?

Dalam peristiwa ini saya membaca adanya satu fakta gamblang bahwa setiap pihak tentunya akan mengklaim bahwa pihaknya adalah yang baik dan jika ada kejahatan keluar maka itu dengan mudah dilabel sebagai militan atau radikal atau ekstrim atau salah mengerti atau “bukan kami” dsb. Sebut saja keberadaan teroris yang mengatas namakan Islam namun akhirnya menjadi bencana buat banyak orang. Pihak muslim menyangkal bahwa tindakan itu adalah yang tepat dilakukan sebagai seorang muslim sejati dan dengan gigih membuktikan bahwa Islam adalah agama damai, umatnya pekerja keras, dan isinya bukan bom, penggal, dan bunuh. Dalam peristiwa ISIS pun, sekumpulan ulama di UK membuat sebuah video bersama yang isinya menyatakan bahwa ISIS bukanlah bagian dari Islam.

Dalam peristiwa penembakan mahasiswa muslim yang ditanggapi oleh Sam Harris ini, hal serupa juga dilakukan oleh Sam. Dia menyatakan bahwa tindakan seperti ini tidak bisa serta merta dicap sebagai tindakan seorang ateis (detilnya bisa didengarkan di link yang ditautkan). Sedangkan tindakan teroris menurutnya sangat bisa dibilang diakibatkan oleh ajaran agama itu sendiri.

Terlepas dari argumen masing-masing pihak, saya ingin kembali membahas fakta bahwa setiap kelompokĀ akan merepresentasikan dirinya sebagai yang baik dan tidak mungkin yang jahat. Saya melihatnya sebagai konfirmasi dari fakta bahwa manusia itu adalah gambar dan rupa Allah yang memang diciptakan dengan standar moral dari Allah sendiri. Standar inilah yang sama-sama diklaim dimiliki (atau berevolusi dan akhirnya dimiliki) oleh kelompok-kelompok yang ada. Saat ada yang salah terjadi, maka dengan mudah kita menuduh kesalahan tersebut terjadi bukan berdasarkan jalur berpikir kelompoknya. Sekalipun si pelaku mengaku bahwa dia melakukan berdasarkan hukum islam, atau “hukum” ateis, atau hukum apapun, maka tentunya dengan mudah akan dinyatakan bahwa pemahamannya salah. Interpretasi menjadi benteng terakhir membela suatu idelogi yang dianut dengan erat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s