Genesis 12 – Part 1

AbrahamAbram menerima panggilan dari Tuhan untuk pergi dari rumah ayahnya ke tanah yang dijanjikan. Faktanya, pada awalnya Tuhan tidak memberi tahu kemana Abram harus pergi. Kita sering mengira–karena berulang kali dikotbahkan di gereja atau di sekolah minggu–bahwa Abram keluar dari Ur-Kasdim menuju ke tanah perjanjian. Secara kronologi yang bisa kita baca sendiri di kitab Kejadian, Abram memang sudah dalam posisi di luar Ur-Kasdim dengan ajakan ayahnya, Terah. Entah dengan alasan apa Terah mengajak keluarganya, Abraham, Sarah, dan Lot, untuk keluar dari kota itu dan menuju ke tanah Kanaan. Mungkin Terah sangat merasa sedih atas kepergian Haran, anaknya, di kota Ur sehingga ingin mencari suasana baru di tanah Kanaan (ini murni spekulasi saya).

Namun, di Kisah Para Rasul 7, kita bisa membaca bahwa Stefanus menyatakan

Jawab Stefanus: “Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,

Dari ayat ini, kita bisa membaca bahwa cara baca kitab Kejadian 12 itu bukanlah secara kronologi dimana Tuhan baru memanggil Abram setelah Terah meninggal. Lalu, apakah kedua ayat ini bertentangan? Argumen saya adalah tidak, ayat ini tidak bertentangan melainkan saling melengkapi dan saling mencerahkan cara pembacaan kita. Biarlah Alkitab menginterpretasi Alkitab.

Dengan cara baca seperti ini, kita bisa mengerti alasan Terah, Abram, Sarai, dan Lot pergi keluar dari Ur. Tentunya bukan karena Terah sedih seperti spekulasi saya, melainkan karena Abram sendiri yang mendapat panggilan Tuhan. Kitab Kejadian mencatat bahwa Terah secara aktif mengajak Abram, Sarai dan Lot keluar dari tanah Ur menuju tanah Kanaan. Menurut saya, alasan Terah keluar dari tanah Ur tidak bisa ditebak secara pasti. Ini mungkin murni inisiatifnya dan Abram mengikut saja sebab sejalan dengan panggilan Tuhan untuk dia (dia dipanggil untuk keluar dari keluarganya dan bukan tidak bersama ayahnya). Atau mungkin Abram-lah yang berinisiatif dan Terah diajak karena beliau sudah tua dan menjadi tanggung jawab Abram. Apapun cara baca kita, kedua ayat di atas tidaklah saling bertentangan dan justru saling melengkapi.

Saya sendiri saat ini lebih condong ke cara baca bahwa Terah aktif mengajak keluarganya keluar Ur karena teksnya berkata demikian. Dengan pembacaan ini, kita bisa lihat adanya dinamika dalam kehidupan Abram setelah dipanggil Tuhan. Dia tidak serta merta keluar dari rumahnya dan meninggalkan orang tuanya. Dalam hal ini, Tuhan membuka pintu untuknya saat Terah memutuskan keluar dari tanah Ur dan bergegas ke Kanaan. Di tengah perjalanan, kita bisa membaca bahwa mereka menetap di Haran.

Terah dikatakan meninggal di Haran setelah berumur 205 tahun. Setelah itu ditulis bahwa Tuhan memanggil Abram keluar dari bangsanya, dari tempat keluarganya, dan dari rumah ayahnya. Tiga lapis panggilan yang menyatakan keseluruhan hidup yang dilepas. Banyak orang bertanya apakah Abram meninggalkan Haran setelah Terah meninggal atau sebelum Terah meninggal. Secara kebudayaan, Abram akan dicap sebagai anak yang tidak tahu adat jika meninggalkan Terah yang sudah tua seorang diri tanpa anak (sekalipun Terah tetap punya harta). Hal ini yang sering menjadi perdebatan apakah Abram sungguh mengambil resiko budaya ini atau tidak. Saya tidak mau menyimpulkan apa-apa dari peristiwa ini karena sepertinya sudah sangat teknis dan kurang membuahkan apa-apa (kecuali saya menemukan hal lain). Contoh diskusinya bisa dicek di link ini http://hermeneutics.stackexchange.com/questions/4599/did-abraham-leave-haran-before-or-after-his-father-died

Dalam hemat saya, peristiwa pemanggilan Abram ini adalah murni pemanggilan Abram oleh Tuhan untuk meninggalkan seluruh latar belakang dia karena Tuhan mempunyai rencana besar untuk dunia ini (berujung pada Yesus Kristus yang lahir dari keturunan Abram). Mengenai penanggalan keberangkatan Abram, saya lebih condong ke arah setelah Terah meninggal. Ini karena keberadaan Lot yang juga mengikut Abram keluar dari Haran.

Saat tiba dii tanah Kanaan, kita bisa membaca bahwa Tuhan akan memberikan tanah tersebut kepada keturunan Abram. Kalau kita menjadi Abram, mungkin saat ini kita akan segera menancapkan kemah kita dan segera menetap di tanah tersebut. Namun setelah Abram membuat altar, Abram malah melanjutkan perjalanannya semakin ke arah Barat. Kita tidak bisa mengerti kenapa Abram tetap melanjutkan perjalannya ke Barat walaupun Tuhan sudah menunjukkan bahwa tanah Kanaan akan menjadi milik keturunannya.

Kemudian, kita bisa membaca bahwa terjadi kelaparan di tanah Negev. Dari perspektif keluarga yang sedang bergegas, mungkin ini menjadi suatu keluhan yang besar luar biasa. Kompleksitas respons yang mungkin terjadi di dalam keluarga Abram saat itu sangat mungkin membentuk respons Abram selanjutnya untuk akhirnya berjalan ke arah Mesir mencari makanan.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s